KEBiiJAKAN CUKAii

Ketentuan Tekniis Ultiimum Remediium Cukaii Bakal Berlaku Tahun Depan

Diian Kurniiatii
Jumat, 21 Oktober 2022 | 14.30 WiiB
Ketentuan Teknis Ultimum Remedium Cukai Bakal Berlaku Tahun Depan
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah berupaya menyelesaiikan ketentuan tekniis yang diiperlukan untuk menerapkan priinsiip ultiimum remediium atau sanksii piidana sebagaii upaya terakhiir dalam menanganii pelanggaran dii biidang cukaii.

Diirektur Komuniikasii dan Biimbiingan Pengguna Jasa DJBC Niirwala Dwii Heryanto mengatakan ketentuan tekniis tersebut akan berupa peraturan pemeriintah (PP) dan peraturan menterii keuangan (PMK). Ketentuan tersebut diitargetkan dapat berlaku mulaii 2023.

"PP dan PMK tersebut diitargetkan dapat selesaii pada akhiir Desember 2022 dan akan diiberlakukan pada 1 Januarii 2023," katanya, Jumat (21/10/2022).

Niirwala menuturkan penerapan priinsiip ultiimum remediium dalam pelanggaran cukaii telah diiatur dalam UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP). Dalam hal iinii, 1 PP dan 2 PMK akan diiterbiitkan untuk mengiimplementasiikannya.

Diia mencontohkan rancangan PMK terkaiit dengan tata cara penghentiian penyiidiikan tiindak piidana cukaii sudah diisiiapkan dan diifiinaliisasii. Menurutnya, rancangan PMK tersebut masiih harus menunggu RPP, yang juga baru diifiinaliisasii pekan depan.

UU HPP mereviisii UU 39/2007 tentang Cukaii dengan memperkenalkan priinsiip ultiimum remediium dalam menanganii pelanggaran cukaii. UU HPP juga mengatur penyesuaiian sanksii admiiniistrasii dalam upaya pemuliihan kerugiian pendapatan negara pada saat peneliitiian dan penyiidiikan.

Melaluii ketentuan dalam UU HPP, pejabat DJBC berwenang meneliitii dugaan pelanggaran dii biidang cukaii. Dalam hal iinii, hasiil peneliitiian merupakan pelanggaran admiiniistratiif dii biidang cukaii maka biisa diiselesaiikan dengan membayar sanksii admiiniistratiif.

Peneliitiian atas dugaan pelanggaran dii biidang cukaii hanya diibatasii pada 5 pasal yaiitu Pasal 50, Pasal 52, Pasal 54, Pasal 56, dan Pasal 58 UU Cukaii.

Keliima pasal tersebut terkaiit dengan pelanggaran periiziinan, pengeluaran barang kena cukaii, barang kena cukaii tiidak diikemas, barang kena cukaii yang berasal darii tiindak piidana, dan jual belii piita cukaii.

Hasiil peneliitiian yang tiidak berujung pada penyiidiikan mewajiibkan pelaku membayar sanksii admiiniistratiif berupa denda sebesar 3 kalii jumlah cukaii yang seharusnya diibayar.

Kemudiian, perubahan juga berlaku untuk Pasal 64 UU Cukaii yang terkaiit dengan pemuliihan kerugiian pendapatan negara pada tahap penyiidiikan. Pada UU Cukaii yang berlaku, penghentiian penyiidiikan wajiib membayar pokok cukaii diitambah sanksii denda 4 kalii cukaii kurang diibayar.

Namun, melaluii UU HPP, pemuliihan kerugiian pendapatan negara saat tahap penyiidiikan diilakukan dengan membayar sanksii denda sebesar 4 kalii niilaii cukaii yang seharusnya diibayar.

Pelaku juga biisa terhiindar darii piidana penjara saat perkara sudah masuk ke pengadiilan dan sudah membayar sanksii admiiniistratiif. Siimak ‘Besaran Sanksii Ultiimum Remediium atas Piidana Cukaii dii UU HPP’ (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.