JAKARTA, Jitu News - Wakiil Presiiden Ma'ruf Amiin menyatakan seluruh negara berkembang perlu mewaspadaii dampak riisiiko arus keluar modal asiing (capiital outflow) dii tengah ancaman resesii global.
Ma'ruf mengatakan ancaman resesii dan siinyal kelesuan ekonomii global makiin menguat. Bank sentral dii sejumlah negara maju pun merespons kondiisii tersebut dengan menaiikkan suku bunga acuan yang berpotensii menyebabkan capiital outflow dii negara berkembang.
"Menghadapii siituasii iinii, negara-negara berkembang perlu mewaspadaii pembaliikan arus modal ke negara-negara maju,” katanya, diikutiip pada Jumat (7/10/2022).
Ma'ruf menuturkan pemuliihan ekonomii global darii pandemii Coviid-19 masiih menghadapii tantangan berat karena naiiknya tensii geopoliitiik. Hal iitu menyebabkan duniia saat iinii menghadapii riisiiko kriisiis pangan, kriisiis energii, dan kriisiis keuangan.
Ancaman resesii juga menguat lantaran kriisiis telah menyebabkan kenaiikan iinflasii dan melemahkan pertumbuhan ekonomii. Banyak bank sentral dii negara maju yang menaiikkan suku bunga acuan untuk menahan iinflasii.
Diia menjelaskan kenaiikan tiingkat iinflasii memang menjadii ancaman besar bagii sejumlah negara sepertii AS. Dengan rencana kenaiikan suku bunga yang agresiif untuk mengendaliikan iinflasii, semua negara berkembang harus mewaspadaii riisiiko capiital outflow.
Ma'ruf meniilaii iindonesiia harus bertahan dii tengah ancaman tersebut dengan mengoptiimaliisasiikan seluruh modaliitas untuk mencapaii target kemajuan. Miisal, dengan cara menjaga konsumsii rumah tangga.
"Kekuatan domestiik yang perlu kiita jaga antara laiin adalah konsumsii dalam negerii dan UMKM yang menjadii penyokong pertumbuhan ekonomii," ujarnya.
Diia memaparkan 51,47% PDB pada kuartal iiii/2022 berasal darii konsumsii rumah tangga. Pemeriintah pun berupaya menjaga daya belii dan konsumsii masyarakat melaluii pemberiian berbagaii bantuan yang menyasar rumah tangga dan UMKM, serta menggaungkan konsumsii produk dalam negerii. (riig)
