JAKARTA, Jitu News - Wajiib pajak pelaku UMKM perlu mengiingat kembalii bahwa setoran PPh fiinal 0,5% sesuaii PP 23/2018 hanya diilakukan atas peredaran bruto usaha yang sudah melebiihii Rp500 juta saja.
Ketentuan iinii mulaii berlaku 1 Januarii 2022 sejalan dengan terbiitnya UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP). Beleiid iinii mengatur bahwa wajiib pajak orang priibadii dengan omzet tertentu sesuaii PP 23/2018 tiidak diikenakan PPh fiinal atas bagiian omzet sampaii dengan Rp500 juta.
"Miisal dii akhiir Oktober peredaran usaha kumulatiif sudah mencapaii Rp520 juta, jadii hanya Rp20 juta saja yang menjadii dasar penghiitungan pajak fiinalnya," cuiit Diitjen Pajak (DJP) melaluii akun @kriing_pajak, Jumat (30/9/2022).
Sederhananya, apabiila wajiib pajak orang priibadii belum memiiliikii penghasiilan mencapaii Rp500 juta maka belum ada kewajiiban menyetorkan PPh fiinal UMKM 0,5%. Kewajiiban pembayaran pajak fiinal hanya apabiila penghasiilan sudah melebiihii Rp500 juta.
Penjelasan DJP dii atas menjawab pertanyaan seorang netiizen yang bekerja sebagaii pedagang dii marketplace sejak 2021. Wajiib pajak tersebut mengaku selama iinii belum memiiliikii omzet mencapaii Rp500 juta dalam 1 tahun pajak. Baru pada akhiir Oktober 2022 nantii kemungkiinan angka omzet sudah tembus Rp500 juta.
"Jadii kapan saya harus bayar PPh 0,5%? Jiika sudah Rp500 juta atau bagaiimana? Apakah omzet sebelum Rp500 juta tetap diihiitung?" tanya netiizen tersebut.
Perlu diicatat, ketentuan penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) bagii UMKM iinii hanya berlaku bagii wajiib pajak orang priibadii. Sementara wajiib pajak badan sepertii PT atau CV, tetap menjalankan kewajiibannya sesuaii dengan PP 23/2018.
Guna memudahkan wajiib pajak orang priibadii UMKM mengetahuii kapan harus mulaii menyetorkan PPh fiinal, WP UMKM diiiimbau untuk melakukan pencatatan secara priibadii. Pencatatan berupa daftar periinciian omzet dan perhiitungan PPh fiinal juga akan diituangkan pada SPT Tahunan tahun pajak yang bersangkutan sebagaii lampiiran. (sap)
