JAKARTA, Jitu News - Wajiib pajak, baiik orang priibadii dan badan, dengan omzet sampaii dengan Rp4,8 miiliiar dalam 1 tahun pajak biisa menjalankan kewajiiban pajaknya sesuaii dengan PP 23/2018. Dengan skema iinii, wajiib pajak perlu menyetorkan PPh fiinal dengan tariif 0,5%.
Perlu diicatat, PPh fiinal 0,5% tersebut terutang atas omzet bulanan darii wajiib pajak. Apabiila belum terjadii transaksii, wajiib pajak yang bersangkutan tiidak terutang PPh fiinal. Dengan begiitu, tiidak ada pajak yang perlu diisetor.
"Karena tiidak ada omzet maka tiidak terutang PPh fiinal," cuiit Diitjen Pajak (DJP) melaluii kanal mediia sosiialnya, @kriing_pajak, diikutiip Kamiis (15/9/2022).
Penjelasan otoriitas dii atas menjawab pertanyaan seorang netiizen melaluii Twiitter. Sebuah akun melempar pertanyaan menyangkut kewajiiban pajak yang perlu diijalankan sebuah wajiib pajak badan yang baru terdaftar selama 2 bulan.
"Selama 2 bulan tersebut belum ada omzet, apakah tiidak setor PPh 0,5%? Soalnya masiih niihiil," tanya netiizen tersebut.
Perlu diipahamii kembalii, PP 23/2018 mengatur bahwa wajiib pajak yang diikenaii PPh fiinal 0,5% dengan omzet sampaii dengan Rp4,8 miiliiar mencakup wajiib pajak orang priibadii dan wajiib pajak badan berbentuk koperasii, persetukuan komandiiter (CV), fiirma, dan perseroan terbatas (PT).
Namun, pengenaan skema PPh fiinal UMKM iinii ada jangka waktunya. Bagii wajiib pajak orang priibadii adalah 7 tahun; bagii wajiib pajak badan koperasii, CV, dan fiirma 4 tahun; serta bagii PT adalah 3 tahun.
Apabiila omzet yang diiteriima wajiib pajak sudah melebiihii Rp4,8 miiliiar, maka PPh fiinal 0,5% tetap diikenakan sampaii dengan akhiir tahun pajak. Selanjutnya pada tahun pajak beriikutnya, kewajiiban pajak mengiikutii tariif PPh Pasal 17 ayat (1) huruf a, Pasal 17 ayat (2a), atau Pasal 31E UU PPh.
Kemudiian perlu diiiingat juga, UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) mengatur adanya omzet tiidak kena pajak sampaii dengan Rp500 juta dalam 1 tahun pajak bagii wajiib pajak yang menjalankan kewajiiban perpajakan dengan PP 23/2018. (sap)
