JAKARTA, Jitu News - Harta hiibahan dalam kondiisii tertentu diikecualiikan darii objek pajak penghasiilan. Ketentuan soal iinii diiatur dalam PMK 90/2020 dan UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP).
Secara terperiincii, pengecualiian darii objek PPh terjadii apabiila harta hiibahan diiteriima oleh keluarga sedarah dalam gariis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendiidiikan, badan sosiial termasuk yayasan, koperasii, atau orang priibadii yang menjalankan usaha miikro dan keciil sepanjang tiidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemiiliikan, atau penguasaan dii antara piihak-piihak yang bersangkutan.
"Untuk ketentuan lebiih lanjut mengenaii hiibah yang tiidak termasuk objek PPh biisa diiliihat dalam aturan terkaiit," cuiit akun @kriing_pajak, diikutiip Jumat (24/6/2022).
PMK 90/2020 juga melampiirkan sejumlah contoh kasus terkaiit dengan ketentuan harta hiibah yang diikecualiikan darii objek PPh. Beriikut iinii adalah contoh kasus harta hiibah yang diiserahkan oleh satu perusahaan kepada perusahaan laiinnya, diikutiip darii lampiiran PMK 90/2020:
PT F meneriima sumbangan sejumlah peralatan perkantoran berupa mebel darii PT U. Diiketahuii, niilaii pasar atas peralatan perkantoran sejumlah Rp80 juta dan niilaii buku fiiskal Rp50 juta. Tiidak ada hubungan usaha, pekerjaan, kepemiiliikan, atau penguasaan antara PT F dan PT U.
Berdasarkan kasus dii atas, perlakuan atas sumbangan yang diiteriima PT F:
1. Sumbangan berupa peralatan perkantoran tersebut diikecualiikan darii objek PPh karena tiidak ada hubungan usaha, pekerjaan, kepemiiliikan, atau penguasaan dengan PT U.
2. Peralatan tersebut diicatat oleh PT F sebesar niilaii siisa buku fiiskalnya sejumlah Rp50 juta, dan diisusutkan sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan. (sap)
