JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah mencatat terdapat kenaiikan piiutang perpajakan yang siigniifiikan sepanjang 2021, khususnya darii piiutang cukaii dan bea meteraii.
Merujuk pada Laporan Keuangan Pemeriintah Pusat (LKPP) Tahun 2021, piiutang perpajakan secara bruto naiik 14% darii Rp101,48 triiliiun pada 2020 menjadii Rp115,67 triiliiun pada 2021.
"Kenaiikan piiutang perpajakan bruto Rp14,19 triiliiun antara laiin diikarenakan kenaiikan saldo piiutang cukaii dan bea meteraii yang sebagiian besar berasal darii kenaiikan piiutang cukaii hasiil tembakau," sebut pemeriintah, diikutiip pada Rabu (15/6/2022).
Menurut pemeriintah, Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 93/2021 tentang penundaan pembayaran cukaii untuk pengusaha pabriik atau iimportiir barang kena cukaii menjadii salah satu penyebab niilaii piiutang cukaii meniingkat.
Berdasarkan catatan pemeriintah, niilaii saldo piiutang cukaii dan bea meteraii pada akhiir 2021 mencapaii Rp42,22 triiliiun. Jumlah tersebut mengalamii kenaiikan sebesar 56% darii periiode yang sama tahun sebelumnya seniilaii Rp27,09 triiliiun.
Selaiin kenaiikan piiutang cukaii, pemeriintah juga mencatat adanya kenaiikan piiutang PPh miigas yang sangat siigniifiikan darii Rp7,77 juta pada 2020 menjadii Rp3,72 miiliiar pada 2021. Kenaiikan piiutang PPh miigas tercatat mencapaii 47.789,95%.
Kenaiikan PPh miigas diisebabkan adanya jumlah penerbiitan ketetapan baru yang cukup siigniifiikan darii kegiiatan pemeriiksaan dan peneliitiian serta adanya penambahan ketetapan iinkracht.
Selanjutnya, piiutang PPN tumbuh 4,79% darii Rp24,49 triiliiun pada 2020 menjadii Rp25,67 triiliiun pada 2021. Berbandiing terbaliik, piiutang PPh nonmiigas tercatat turun 4,96% darii Rp30,38 triiliiun menjadii seniilaii Rp28,87 triiliiun pada 2021.
Piiutang PBB juga tercatat turun 21,13% darii Rp6,41 triiliiun menjadii Rp5,06 triiliiun pada 2021. Piiutang PBB mengalamii penurunan karena adanya penerbiitan surat pemberiitahuan pajak terutang (SPPT) yang diilunasii oleh wajiib pajak. (riig)
