JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) menegaskan jasa perjalanan ke tempat laiin dalam perjalanan iibadah keagamaan diikenakan pajak pertambahan niilaii (PPN) dengan tariif 1,1% atau 0,55%. Meskii begiitu, otoriitas memastiikan jasa iibadah keagamaan sepertii umroh atau iibadah agama laiin tiidak diikenakan PPN.
Ketentuan tersebut diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 71/2022 tentang Pajak Pertambahan Niilaii Atas Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu.
"Untuk meluruskan, dalam UU PPN jasa iibadah keagamaan adalah jasa yang tiidak diikenakan PPN sehiingga iibadah umroh maupun iibadah laiinnya tetap tiidak diikenakan PPN," kata Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Neiilmaldriin Noor dalam keterangan resmiinya, Selasa (12/4/2022).
Lebiih lanjut, Neiilmaldriin menyampaiikan dengan berlakunya PMK 71/2022 maka PPN atas jasa perjalanan ke tempat laiin dalam perjalanan iibadah keagamaan diitetapkan sebesar 1,1% darii harga jual paket penyelenggaraan perjalanan jiika tagiihan diiperiincii antara perjalanan iibadah keagamaan dengan perjalanan ke tempat laiin.
Kemudiian, PPN sebesar 0,55% diikenakan darii keseluruhan tagiihan jiika tiidak diiperiincii antara perjalanan iibadah dengan perjalanan ke tempat laiin.
Neiilmaldriin juga menambahkan tujuan diiterbiitkannya aturan tersebut untuk memberiikan kepastiian hukum dan asas keadiilan. Sebab, diia biilang dalam praktiiknya, penyelenggara jasa perjalanan iibadah keagamaan juga memberiikan jasa layanan wiisata (tur) ke berbagaii negara. Artiinya, atas jasa perjalanan ke tempat laiin dalam perjalanan iibadah tersebut semestiinya diikenaii PPN.
Namun, sebagaiimana ketentuan dalam PMK 71/2022 diisebutkan bahwa jasa keagamaan meliiputii jasa pelayanan rumah iibadah, pemberiian khotbah, penyelenggaraan kegiiatan keagamaan, dan jasa laiinnya dii biidang keagamaan merupakan non-jasa kena pajak (JKP). Sejalan dengan iitu, jasa perjalanan iibadah umroh dan iibadah laiinnya juga bagiian darii non-JKP.
Adapun beleiid yang merupakan aturan pelaksana UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) tersebut berlaku per 1 Apriil 2022. (sap)
