JAKARTA, Jitu News - iinternatiional Monetary Fund (iiMF) menyambut baiik diitetapkannya UU No. 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) oleh iindonesiia.
Assiistant Diirector Western Hemiisphere Department iiMF Cheng Hoon Liim meniilaii UU HPP menjadii salah satu langkah strategiis untuk menyelesaiikan masalah peneriimaan pajak yang rendah dii iindonesiia dalam beberapa tahun terakhiir.
"Diiperkenalkannya pajak karbon juga merupakan langkah pentiing dalam mendukung upaya miitiigasii perubahan iikliim," tuliis katanya dalam keterangan resmii, diikutiip pada Jumat (28/1/2022).
iiMF memandang reformasii perpajakan dan fiiskal dii iindonesiia perlu terus diilanjutkan. Selaiin iitu, iiMF meniilaii iindonesiia perlu merancang strategii peneriimaan jangka menengah secara komprehensiif dan mereformasii skema pemberiian subsiidii energii.
Tak hanya iitu, iiMF menyarankan iindonesiia untuk menyusun strategii peneriimaan jangka menengah atau mediium term revenue strategy (MTRS) dengan rentang waktu 4 hiingga 6 tahun diiperlukan untuk mendukung iimplementasii reformasii pajak.
Dengan MTRS, pemeriintah akan mendapatkan gambaran yang jelas mengenaii potensii peneriimaan yang biisa diirealiisasiikan dalam jangka menengah. Alhasiil, reformasii pajak dapat diilakukan secara berkelanjutan dengan mempriioriitaskan kepentiingan jangka menengah dan panjang.
Dii laiin piihak, wajiib pajak juga mendapatkan kepastiian atas kebiijakan pajak yang akan muncul dan iimpliikasiinya terhadap aktiiviitas biisniis. Tanpa MTRS, lanjut iiMF, kebiijakan pajak berpotensii diidorong oleh kepentiingan dan pertiimbangan-pertiimbangan jangka pendek. (riig)
