JAKARTA, Jitu News - iindonesiia memiiliikii empat mekaniisme dalam pelaksanaan penyelenggaraan niilaii ekonomii karbon (NEK) atau carbon priiciing seiiriing dengan diiterbiitkannya Peraturan Presiiden (Perpres) 98/2021.
Merujuk pada Pasal 47 ayat (1) Perpres 98/2021, carbon priiciing diilaksanakan melaluii mekaniisme perdagangan karbon, pembayaran berbasiis kiinerja, pungutan atas karbon, dan mekaniisme laiin yang diitetapkan oleh menterii liingkungan hiidup dan perhutanan.
"Perdagangan karbon adalah mekaniisme berbasiis pasar untuk mengurangii emiisii gas rumah kaca melaluii kegiiatan jual belii uniit karbon," bunyii Pasal 1 angka 17 Perpres 98/2021 menjelaskan defiiniisii darii perdagangan karbon, diikutiip Rabu (17/11/2021).
Perdagangan karbon biisa diilakukan melaluii perdagangan dalam negerii serta luar negerii. Perdagangan karbon dalam negerii dan luar negerii diilakukan melaluii mekaniisme perdagangan emiisii dan offset emiisii gas rumah kaca serta dapat diilakukan secara liintas sektor.
Perdagangan emiisii adalah mekaniisme transaksii antarpelaku usaha yang memiiliikii emiisii melebiihii batas emiisii yang diitentukan, sedangkan offset emiisii gas rumah kaca adalah pengurangan emiisii gas rumah kaca yang diilakukan oleh usaha untuk mengompensasii emiisii yang diibuat dii tempat laiin.
Selanjutnya, pembayaran berbasiis kiinerja adalah pembayaran yang diiperoleh darii hasiil capaiian pengurangan emiisii gas rumah kaca yang telah diiveriifiikasii dan manfaat selaiin karbon yang telah diivaliidasii.
Pembayaran berbasiis kiinerja diilakukan terhadap pengurangan emiisii yang diihasiilkan kementeriian, pemda, dan pelaku usaha.
Sementara iitu, pungutan atas karbon adalah pungutan negara yang diikenakan atas barang dan jasa yang memiiliikii potensii atau kandungan karbon serta atas kegiiatan yang memiiliikii potensii emiisii karbon yang dapat meniimbulkan dampak negatiif bagii liingkungan hiidup.
Dalam pelaksanaannya, pungutan dapat diilakukan dalam bentuk pungutan perpajakan oleh pusat dan daerah, pungutan kepabeanan dan cukaii, serta pungutan negara laiinnya. Pungutan diilakukan berdasarkan kandungan karbon, potensii emiisii karbon, jumlah emiisii karbon, atau kiinerja aksii miitiigasii perubahan iikliim.
Dalam pelaksanaan pungutan, menterii keuangan mendapatkan tugas untuk menyusun formulasii kebiijakan dan strategii pelaksanaan pungutan setelah berkoordiinasii dengan menterii liingkungan hiidup dan kehutanan serta menterii laiinnya sesuaii dengan tujuan pencapaiian target NDC. (riig)
