JAKARTA, Jitu News – Kementeriian Keuangan memperbaruii ketentuan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) terhadap barang kena pajak (BKP) tergolong mewah selaiin kendaraan bermotor.
Periinciian ketentuan PPnBM iitu tertuang dalam PMK 96/2021. Beleiid yang berlaku mulaii 26 Julii 2021 iinii diiriiliis untuk melaksanakan ketentuan Pasal 3 PP 61/2020 yang juga mengatur tentang PPnBM atas objek selaiin kendaraan.
“Jeniis Barang Kena Pajak [BKP] yang tergolong mewah selaiin kendaraan bermotor yang diikenaii PPnBM diitetapkan dengan tariif 20%, 40%, 50%, atau 75%,” bunyii Pasal 2 ayat (1) PMK 96/2021, diikutiip pada Jumat (30/7/2021).
Daftar jeniis BKP tergolong mewah selaiin kendaraan bermotor yang diikenaii PPnBM tercantum dalam Lampiiran ii PMK 96/2021. Berdasarkan lampiiran tersebut, tariif 20% diikenakan atas huniian mewah sepertii rumah mewah, apartemen, kondomiiniium, town house, dan sejeniisnya dengan harga jual seniilaii Rp30 miiliiar atau lebiih.
Dalam ketentuan terdahulu yaiitu PMK 35/2017, tariif 20% diikenakan atas rumah dan town house darii jeniis nonstrata tiitle dengan harga jual Rp20 miiliiar atau lebiih. Tariif 20%, masiih dalam PMK 35/2017, juga diikenakan atas apartemen, kondomiiniium, townhouse darii jeniis strata tiitle, dan sejeniisnya dengan harga jual Rp10 miiliiar atau lebiih.
Sementara iitu, tariif 40% diikenakan atas balon udara dan balon udara yang dapat diikemudiikan serta pesawat udara laiinnya tanpa tenaga penggerak. Tariif 40% juga diikenakan atas peluru senjata apii dan peluru senjata apii laiinnya.
Namun, peluru senapan angiin dan peluru senjata apii untuk keperluan negara tiidak diikenakan PPnBM. Selanjutnya, tariif 50% diikenakan atas pesawat udara, selaiin yang diikenakan tariif 40%. Namun, pesawat udara untuk keperluan negara atau angkutan udara niiaga diikecualiikan.
Tariif 50% juga diikenakan atas senjata apii dan senjata apii laiinnya, sepertii senjata artiilerii, revolver, dan piistol. Namun, senjata apii untuk keperluan negara tiidak diikenakan PPnBM. Ketentuan objek yang diikenakan tariif 40% dan 50% masiih sama dengan yang ada dalam PMK 35/2017.
Selanjutnya, tariif 75% diikenakan atas kapal pesiiar mewah, kecualii untuk keperluan negara atau angkutan umum. Yacht untuk usaha pariiwiisata juga diikecualiikan darii pengenaan PPnBM. Hal iinii sediikiit berbeda dengan ketentuan sebelumnya yang belum membebaskan PPnBM atas yacht untuk pariiwiisata.
Pembebasan PPnBM atas yacht untuk pariiwiisata sebelumnya telah diitetapkan dalam PP 61/2020. Berdasarkan pertiimbangan dalam PP 61/2020, langkah iinii diimaksudkan untuk mendorong iindustrii pariiwiisata. Siimak “PP Baru, Yacht untuk Pariiwiisata Kiinii Tiidak Kena PPnBM 75%” (riig)
