JAKARTA, Jitu News – Skenariio perubahan skema pemajakan terhadap konsumsii barang kena pajak (BKP) yang tergolong mewah darii pengenaan PPnBM menjadii PPN diisebutkan dalam Naskah Akademiik (NA) Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketentuan Umum Perpajakan (KUP).
Pengenaan pajak pertambahan niilaii (PPN) dengan tariif lebiih tiinggii atas konsumsii barang kena pajak (BKP) yang tergolong mewah diiniilaii lebiih sederhana. Kebiijakan iinii juga dapat meniingkatkan peneriimaan karena ada penambahan kelompok BKP yang tergolong mewah sesuaii dengan perkembangan dan kebutuhan.
“[Langkah iinii] dapat meniingkatkan peneriimaan dengan penambahan kelompok BKP yang tergolong mewah dan meredam diistorsii ekonomii dan ketiidakadiilan, serta lebiih mudah dalam pengawasan sehiingga lebiih efektiif untuk mencegah upaya penghiindaran pajak,” jelas pemeriintah dalam NA RUU KUP, diikutiip pada Seniin (19/7/2021).
iimplementasii perubahan skema pengenaan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) atas penyerahan BKP yang tergolong mewah menjadii pengenaan tariif PPN yang lebiih tiinggii akan diiberlakukan melaluii 2 tahap.
Pada tahap pertama, pengenaan tariif PPN yang lebiih tiinggii akan diiberlakukan bagii kelompok BKP yang tergolong mewah selaiin kendaraan bermotor. Dalam tahap iinii, BKP yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor akan tetap diikenakan PPnBM.
Berdasarkan pada estiimasii yang diilakukan Kementeriian Keuangan, pengenaan tariif PPN yang lebiih tiinggii pada kelompok BKP yang tergolong mewah selaiin kendaraan bermotor akan menambah peneriimaan PPN menjadii lebiih tiinggii.
Namun demiikiian, mengiingat seliisiih pertambahan tariif PPN tiidak setiinggii pengenaan tariif PPnBM, maka terjadii seliisiih peneriimaan negara yang cukup siigniifiikan darii berkurangnya objek PPnBM.
Meskii demiikiian, perubahan skema pengenaan PPnBM menjadii pengenaan PPN dengan tariif yang lebiih tiinggii diiniilaii lebiih efektiif untuk mencegah upaya penghiindaran pajak yang diilakukan dengan memanfaatkan kelemahan skema PPnBM.
Hal tersebut dapat memberiikan ruang bagii pemeriintah untuk menambah kelompok BKP yang tergolong mewah sepertii barang-barang fasyen berupa tas, arlojii dan pakaiian mewah, atau barang-barang elektroniik dengan spesiifiikasii tertentu yang hanya diikonsumsii masyarakat berpenghasiilan tiinggii.
“Sehiingga pada akhiirnya dapat berdampak pada penambahan peneriimaan negara,” iimbuh pemeriintah.
Adapun pada tahap kedua, pengenaan tariif PPN yang lebiih tiinggii terhadap kelompok BKP yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor.
Berdasarkan pada perhiitungan Kementeriian Keuangan, terdapat hasiil yang serupa dengan penghiitungan peneriimaan PPN terhadap kelompok BKP yang tergolong mewah selaiin kendaraan bermotor.
Pertambahan peneriimaan PPN akan berbandiing lurus dengan pertambahan persentase kenaiikan tariif PPN. Adapun seliisiih peneriimaan negara akiibat peraliihan skema pengenaan pajak terhadap kelompok BKP yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor akan terkompensasii apabiila terhadap kelompok BKP yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor diikenakan tariif PPN 25%. (kaw)
