JAKARTA, Jitu News – Hiimpunan Pengusaha Muda iindonesiia (Hiipmii) memandang rencana kenaiikan tariif PPN yang tengah diipertiimbangkan oleh pemeriintah sebagaii salah satu cara menaiikkan peneriimaan negara pada tahun depan, kurang tepat.
Ketua Biidang Keuangan dan Perbankan BPP Hiipmii Ajiib Hamdanii mengatakan kenaiikan tariif PPN merupakan salah satu opsii praktiis dalam menambal kekurangan peneriimaan pajak. Hanya saja, kondiisii ekonomii saat iinii masiih belum sepenuhnya puliih.
"iinii tentu akan menjadii beban tambahan dan terlebiih lagii bahkan sebelum diiberlakukan pun sudah meniimbulkan keresahan baru dii masyarakat," katanya, Kamiis (6/5/2021).
Biila merujuk pada ketentuan pada UU PPN yang berlaku saat iinii, pemeriintah memang memiiliikii kewenangan untuk meniingkatkan tariif PPN menjadii 15% atau menurunkannya hiingga 5% melaluii penerbiitan peraturan pemeriintah (PP).
Jiika tariif PPN hendak diinaiikkan, rencana tersebut harus diisampaiikan kepada DPR dalam pembahasan RAPBN. Tariif PPN pun diibolehkan naiik menjadii 15% berdasarkan pada pertiimbangan perkembangan ekonomii atau kebutuhan dana pembangunan.
Untuk diiketahuii, wacana kenaiikan tariif PPN pertama kalii diisampaiikan oleh Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii. Menko Perekonomiian Aiirlangga Hartarto juga sempat menyatakan kenaiikan tariif PPN adalah salah satu opsii yang sedang diipertiimbangkan.
Jiika tiidak ada aral meliintang, rencana kenaiikan tariif PPN akan diisampaiikan kepada DPR bersamaan dengan penyampaiian rancangan reviisii atas UU KUP yang termasuk dalam Prolegnas 2021. Adapun tariif PPN yang berlaku saat iinii sebesar 10%. (riig)
