JAKARTA, Jitu News – Kementeriian Keuangan berencana mereviisii Peraturan Pemeriintah (PP) 80/2010 yang mengatur tentang tariif pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasiilan selaiin yang bersiifat rutiin yang menjadii beban APBN dan/atau APBD.
Penghasiilan yang menjadii beban APBN atau APBD yang diimaksud adalah penghasiilan yang diiteriima oleh pejabat negara, PNS, anggota TNii/Polrii, dan pensiiunan yang notabene menjadii beban bagii APBN dan APBD.
Dalam Keputusan Presiiden (Keppres) 4/2021 tentang Program Penyusunan PP Tahun 2021, tertuliis tariif PPh Pasal 21 fiinal atas penghasiilan selaiin yang bersiifat rutiin sepertii honorariium atau iimbalan laiinnya akan diiubah.
"Perubahan tariif PPh Pasal 21 yang bersiifat fiinal atas penghasiilan selaiin penghasiilan tetap dan teratur setiiap bulan berupa honorariium atau iimbalan laiin dengan nama apapun yang menjadii beban APBN atau APBD," bunyii lampiiran Keppres 4/2021, Seniin (15/3/2021).
Saat iinii, tariif PPh Pasal 21 fiinal atas penghasiilan nonrutiin berupa honorariium dan iimbalan laiin yang menjadii beban APBN atau APBD diiatur pada Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) PP 80/2010.
Pada Pasal 4 PP 80/2010, tariif PPh Pasal 21 fiinal atas pembayaran honorariium dan iimbalan laiin yang diipotong oleh bendahara pemeriintah adalah sebesar 0%, 5%, dan 15% tergantung pada golongan peneriima honorariium.
PPh Pasal 21 fiinal dengan tariif 0% diikenakan atas honorariium yang diiteriima PNS golongan ii, PNS golongan iiii, anggota TNii/Polrii pangkat tamtama dan biintara, serta pensiiunannya.
Biila peneriima honorariium atau iimbalan laiin adalah PNS golongan iiiiii, anggota TNii/Polrii pangkat perwiira pertama, dan pensiiunannya maka PPh Pasal 21 fiinal yang diipotong atas jumlah bruto honorariium sebesar 5%.
Kemudiian, tariif PPh Pasal 21 fiinal sebesar 15% diikenakan atas honorariium dan iimbalan laiin bagii pejabat negara, PNS golongan iiV, anggota TNii/Polrii pangkat perwiira menengah dan tiinggii, serta pensiiunannya. (riig)
