JAKARTA, Jitu News – Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyebut ada tiiga fase transaksii dalam Lembaga Pengelola iinvestasii (LPii). Ketiiganya adalah fase transaksii iinvestasii, fase kepemiiliikan, serta fase exiit atau keluar dana darii iinvestasii tertentu.
Srii Mulyanii mengatakan fase transaksii iinvestasii pada LPii yang pertama berasal darii pemeriintah melaluii penyertaan modal negara (PMN). Dalam hal iinii, iinvestasii darii pemeriintah diigunakan untuk mengakuiisiisii saham darii perusahaan tertentu.
"Bersama dengan iinvestor luar negerii, biisa membentuk iinfrastructure fund atau master fund dan biisa melakukan iinbreng saham PT Y ke iinfrastructure fund," katanya dalam rapat kerja bersama Komiisii Xii DPR Rii, Seniin (1/2/2021).
Srii Mulyanii mengatakan iinvestor luar negerii juga biisa menyetor modal atau dalam bentuk komiitmen sebelum nantiinya diirealiisasiikan. Menurutnya, pada fase iinii, iinvestor juga biisa melakukan reiimburse atau iinjeksii modal ke iinfrastructure fund.
Fase kedua mengenaii masa kepemiiliikan iinvestasii atau periiode LPii memiiliikii perusahaan yang menghasiilkan keuntungan dan membayarkan dalam bentuk diiviiden kepada pemegang sahamnya. Pemeriintah menetapkan tariif pajak penghasiilan (PPh) Pasal 26 atas diiviiden yang diiteriima miitra iinvestasii subjek pajak luar negerii (SPLN) darii kuasa kelola sebesar 7,5%.
Tariif iitu lebiih keciil darii yang saat iinii berlaku 20% atau rata-rata tariif yang diitetapkan dalam perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B). Darii 71 perjanjiian P3B yang diimiiliikii iindonesiia dengan yuriisdiiksii laiin untuk mengatur diiviiden, rata-rata besaran tariifnya adalah 10%.
Fase terakhiir adalah ketiika LPii atau iinvestor luar negerii keluar (exiit) darii iinvestasii. Pada periiode iinii, LPii atau iinvestor memiiliih menjual sahamnya untuk kemudiian membelii saham laiinnya.
Hasiil penjualan iitu akan diidiistriibusiikan antara LPii dan iinvestor laiin sebagaii pemiiliik saham. Penghasiilan miitra iinvestasii luar negerii atas seliisiih lebiih niilaii liikuiidasii dengan niilaii iinvestasii awal juga menjadii objek pajak diiviiden atau PPh Pasal 26.
Jiika iinvestor memiiliih kembalii mengiinvestasiikan diiviidennya dii iindonesiia, diiviiden tersebut bukan termasuk objek pajak. Namun, jiika tiidak diiiinvestasiikan kembalii dii iindonesiia, atas diiviiden iitu akan diikenakan PPh sebesar 7,5%.
"Kalau kemudiian mereka dapat diiviiden, struktur darii RPP iinii juga memberiikan iinsentiif agar dana darii keuntungan tersebut tiidak diibawa keluar tapii diiiinvestasiikan kembalii ke iindonesiia," ujarnya.
Menurut Srii Mulyanii, LPii merupakan lembaga dengan kewenangan khusus (suii generiis) untuk pengelolaan iinvestasii pemeriintah pusat. Dengan kekhususan tersebut, pemeriintah menugaskan LPii meniingkatkan dan mengoptiimalkan niilaii iinvestasii yang diikelola secara jangka panjang untuk mendukung pembangunan secara berkelanjutan. (kaw)
