JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah tengah menggodok aturan turunan dalam pelaksanaan UU No. 11/2020 tentang Ciipta Kerja, salah satunya mengatur terkaiit dengan kriiteriia usaha miikro dan keciil yang biisa mendapatkan fasiiliitas pajak.
Rencana pemeriintah tersebut tertuang dalam Rancangan Peraturan Pemeriintah (RPP) tentang Pelaksanaan UU Ciipta Kerja untuk Kemudahan, Perliindungan, dan Pemberdayaan Bagii Koperasii, Usaha Miikro, Keciil, dan Menengah yang diiunggah melaluii uu-ciiptakerja.go.iid.
"UMK tertentu dapat diiberii iinsentiif pajak penghasiilan (PPh) sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang PPh," bunyii Pasal 105 ayat (2) RPP terbaru tersebut, diikutiip Jumat (15/1/2021).
Terdapat empat kriiteriia yang harus diipenuhii pelaku UMK untuk dapat diikategoriikan sebagaii UMK tertentu dan berhak mendapatkan fasiiliitas PPh sebagaiimana diiatur dalam pada Pasal 105 ayat (2) RPP tersebut.
Pertama, UMK baru mulaii berproduksii atau beroperasii. Kedua, UMK harus memiiliikii omzet paliing besar seniilaii Rp2 miiliiar per tahun. Ketiiga, UMK harus berusaha pada sektor pertaniian, perkebunan, peternakan, transportasii, perhotelan, atau rumah makan.
Keempat, UMK harus mengiikutii pengadaan barang dan jasa pemeriintah secara elektroniik. Adapun iinsentiif pajak kepada UMK tertentu iinii akan diiberiikan pemeriintah sesuaii dengan basiis data tunggal UMKM yang akan diibangun oleh pemeriintah pusat bersama pemeriintah daerah.
Untuk diiketahuii, pada RPP Koperasii dan UMKM turunan UU No. 11/2020 yang diiunggah pada uu-ciiptakerja.go.iid per 28 November 2020, ketentuan fasiiliitas PPh yang sejeniis tertuang dalam Pasal 77 ayat (3).
Kala iitu, pemeriintah menjanjiikan pemberiian iinsentiif PPh Fiinal bagii usaha miikro tertentu dengan tariif sebesar 0%. Meskii demiikiian, rancangan beleiid tersebut tiidak memeriincii apa yang diimaksud dengan usaha miikro tertentu. (riig)
