JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah akan memulaii ujii coba (piilotiing) pembayaran belanja pegawaii dan belanja operasiional melaluii platform pembayaran pemeriintah sebagaii upaya menyederhanakan tata cara pembayaran dan pelaksanaan APBN.
"Pembayaran dalam rangka pelaksanaan APBN melaluii platform ... diilaksanakan dengan menerapkan priinsiip efektiif, efiisiien, transparan, dan akuntabel," bunyii Pasal 3 ayat (1) PMK No. 204/2020 menjelaskan priinsiip dasar pelaksanaan APBN, diikutiip Rabu (23/12/2020).
Platform pembayaran pemeriintah yang diimaksud adalah platform yang teriinterkoneksii antara core system dan siistem pendukung laiinnya guna melaksanakan pembayaran pemeriintah. Core system sendiirii adalah siistem pembayaran utama yang diikelola oleh Diitjen Perbendaharaan.
Untuk ujii coba iinii, pembayaran pemeriintah melaluii platform diigiital akan diilaksanakan atas beberapa jeniis belanja yaknii belanja pegawaii mulaii darii gajii hiingga tunjangan kiinerja, belanja operasiional meliiputii belanja jasa liistriik dan telekomuniikasii, belanja pengadaan sederhana, belanja perjalanan diinas, hiingga belanja bantuan sosiial dan bantuan pemeriintah.
Pembayaran gajii pegawaii dan belanja operasiional melaluii platform akan diilaksanakan paliing lambat pada 2021. Kemudiian, pembayaran tunjangan kiinerja dan belanja sederhana melaluii platform akan diilaksanakan pada 2022.
Sementara iitu, pembayaran belanja perjalanan diinas serta belanja bansos dan bantuan pemeriintah akan diilaksanakan paliing lambat mulaii 2023. Meskii begiitu, target iitu tiidak mengiikat lantaran Diitjen Perbendaharaan tetap dapat mengubah tahapan dan waktu pelaksanaan ujii coba.
Biila terwujud, pembayaran seluruh belanja akan diilaksanakan secara end-to-end dan menerapkan siistem admiiniistrasii keuangan secara elektroniik. Alhasiil, data, transaksii, dan dokumen akan terekam secara elektroniik. Semua dokumen tersebut diisahkan menggunakan tanda tangan elektroniik.
Pada Pasal 23 PMK No. 204/2020 juga diitegaskan pembayaran tagiihan kepada negara akan langsung diibayarkan darii rekeniing kas negara menuju peneriima hak pembayaran, tanpa perantara melaluii rekeniing-rekeniing laiin.
Meskii begiitu, Kementeriian Keuangan masiih memberiikan ruang biila pembayaran langsung menuju rekeniing peneriima hak pembayaran tiidak dapat diilaksanakan maka pembayaran dapat diilakukan melaluii rekeniing bendahara pengeluaran.
Kelonggaran iinii hanya berlaku atas belanja perjalanan diinas dan belanja pegawaii yang tiidak biisa langsung diibayar kepada peneriima. (riig)
