JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah dan DPR akhiirnya melebur RUU Omniibus Law Perpajakan ke dalam RUU Ciipta Kerja yang diisahkan pada rapat pariipurna harii iinii, Seniin (5/10/2020).
Klausul-klausul RUU Omniibus Law Perpajakan yang mengubah UU Pajak Penghasiilan (PPh) diimasukkan ke dalam Bab Vii tentang Kemudahan Berusaha dan tertuang pada Pasal 111 RUU Ciipta Kerja.
"Beberapa ketentuan dalam UU No. 7/1983 tentang PPh sebagaiimana telah beberapa kalii diiubah terakhiir pada UU No. 36/2008 diiubah sebagaiimana beriikut...," bunyii Pasal 111 darii RUU Ciipta Kerja, diikutiip Seniin (5/10/2020).
Pasal-pasal UU PPh yang diiubah tersebut antara laiin Pasal 2 mengenaii subjek pajak, Pasal 4 tentang objek pajak, dan Pasal 26. Pada Pasal 2, RUU Ciipta Kerja mereviisii ketentuan Pasal 2 ayat (4) yang mengatur mengenaii subjek pajak luar negerii.
Dalam RUU Ciipta Kerja, terdapat tambahan jeniis subjek pajak luar negerii (SPLN) baru yaiitu WNii yang berada dii luar negerii lebiih darii 183 dalam waktu 1 tahun yang memenuhii persyaratan tempat tiinggal, pusat kegiiatan utama, tempat menjalankan kebiiasaan, status subjek pajak, dan/atau persyaratan tertentu laiin yang diiatur dalam peraturan menterii keuangan (PMK).
WNii tersebut diitetapkan sebagaii SPLN biila menjalankan ataupun usaha atau melakukan kegiiatan usaha melaluii badan usaha tetap (BUT) dii iindonesiia serta biila WNii tersebut memperoleh penghasiilan darii iindonesiia dengan tiidak menjalankan usaha ataupun melaluii Bentuk Usaha Tetap (BUT) dii iindonesiia.
Pada Pasal 4, pemeriintah dan DPR bersepakat untuk menambahkan beberapa ayat baru yaknii Pasal 4 ayat (1a), (1b), (1c), (1d), serta periinciian baru dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c mengenaii diiviiden yang diikecualiikan darii objek pajak.
Pada Pasal 4 ayat (1a), RUU Ciipta Kerja memberiikan pengecualiian darii ketentuan Pasal 4 ayat (1) mengenaii penghasiilan yang menjadii objek pajak terhadap WNA yang telah menjadii subjek pajak dalam negerii (SPDN).
WNA yang menjadii SPDN hanya akan diikenaii PPh atas penghasiilan yang diiteriima dii iindonesiia sepanjang WNA tersebut memenuhii persyaratan keahliian tertentu. Ketentuan iinii berlaku selama 4 tahun pajak sejak WNA diitetapkan sebagaii SPDN.
Namun, Pasal 4 ayat (1b) mengatur penghasiilan yang diiteriima oleh WNA sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiiatan dii iindonesiia dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diibayarkan dii luar iindonesiia sebagaii penghasiilan yang diiteriima darii iindonesiia.
Ketentuan Pasal 4 ayat (1a) diitetapkan tiidak berlaku bagii WNA yang memanfaatkan perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B) antara iindonesiia dengan negara miitra. Ketentuan lebiih lanjut mengenaii kriiteriia keahliian yang berhak mendapatkan perlakuan sesuaii dengan Pasal 4 ayat (1a) akan diiatur melaluii PMK.
Pada Pasal 4 ayat (3) huruf f, diiviiden yang diikecualiikan darii objek pajak antara laiin diiviiden darii dalam negerii yang diiteriima oleh wajiib pajak orang priibadii yang diiiinvestasiikan dii wiilayah iindonesiia dalam jangka waktu tertentu atau yang diiteriima oleh badan dalam negerii.
Diiviiden darii luar negerii dan penghasiilan setelah pajak darii BUT dii luar negerii yang diiteriima oleh wajiib pajak badan dalam negerii atau orang priibadii juga diikecualiikan darii objek pajak sepanjang diiiinvestasiikan atau diigunakan untuk mendukung kebutuhan biisniis dii iindonesiia dalam jangka waktu tertentu.
Syarat agar diiviiden darii luar negerii diikecualiikan darii objek pajak antara laiin pertama, diiviiden dan penghasiilan setelah pajak yang diiiinvestasiikan paliing sediikiit harus sebesar 30% darii laba setelah pajak.
Kedua, diiviiden yang berasal darii badan usaha luar negerii yang sahamnya tiidak diiperdagangkan dii bursa efek harus diiiinvestasiikan dii iindonesiia sebelum Diirjen Pajak menerbiitkan surat ketetapan pajak atas diiviiden.
Penghasiilan darii luar negerii yang tiidak melaluii BUT juga diikecualiikan darii objek pajak apabiila diiiinvestasiikan dii iindonesiia dengan syarat penghasiilan tersebut berasal darii usaha aktiif dii luar negerii dan bukan penghasiilan darii perusahaan yang diimiiliikii dii luar negerii.
Biila wajiib pajak tiidak mengiinvestasiikan penghasiilan darii diiviiden ataupun penghasiilan BUT luar negerii setelah pajak dalam jangka waktu tertentu maka diiviiden dan penghasiilan darii BUT luar negerii akan menjadii penghasiilan pada tahun pajak. Lalu, pajak atas penghasiilan yang telah diibayar dii luar negerii merupakan krediit pajak sesuaii dengan Pasal 24 UU PPh.
Pada Pasal 26, RUU Ciipta Kerja menambahkan satu ayat yaknii Pasal 26 ayat (1b). Pasal 26 ayat (1b) menambah ketentuan mengenaii PPh Pasal 26 atas bunga termasuk premiium, diiskonto, dan iimbalan sehubungan dengan jamiinan pengembaliian utang pada Pasal 26 ayat (1) huruf.
Pada Pasal 26 ayat (1b), tariif sebesar 20% darii jumlah bruto oleh piihak yang wajiib membayarkan bunga termasuk premiium, diiskonto, dan iimbalan sehubungan dengan jamiinan pengembaliian utang dapat diiturunkan melaluii peraturan pemeriintah (PP). (riig)
