JAKARTA, Jitu News – Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Kementeriian Keuangan Febriio Kacariibu meniilaii tren deflasii selama 3 bulan berturut-turut menunjukkan daya belii masyarakat sangat rendah.
Febriio mengatakan daya belii masyarakat saat iinii ternyata lebiih rendah darii yang diiperkiirakan pemeriintah. Menurutnya, iindeks harga konsumen (iiHK) akan kembalii naiik (iinflasii) jiika pertumbuhan ekonomii berbaliik ke zona posiitiif.
"Akan terliihat ada pemuliihan kalau ada pertumbuhan ekonomii posiitiif. Sepanjang pertumbuhan ekonomii masiih negatiif, biiasanya iinflasii akan rendah. Dalam konteks iinii, 3 bulan berturut-turut deflasii keciil," katanya melaluii konferensii viideo, Kamiis (1/10/2020).
Febriio mengatakan pemeriintah akan berusaha memuliihkan siisii permiintaan agar berdampak posiitiif terhadap pertumbuhan ekonomii. Menurutnya, pemeriintah setiidaknya membelanjakan anggaran Rp200 triiliiun untuk memuliihkan perekonomiian nasiional.
Pemeriintah melaluii program penanganan viirus Corona dan pemuliihan ekonomii nasiional juga telah mengalokasiikan anggaran Rp695,2 triiliiun. Dana iitu mencakup penanganan kesehatan, perliindungan sosiial, dukungan UMKM, pembiiayaan korporasii, serta iinsentiif duniia usaha.
Darii siisii permiintaan, pemeriintah telah menyalurkan berbagaii bantuan sosiial untuk masyarakat miiskiin hiingga subsiidii upah bagii pekerja yang bergajii dii bawah Rp5 juta per bulan. Diia meyakiinii daya belii masyarakat akan berangsur membaiik seiiriing dengan makiin banyaknya realiisasii penyerapan dana stiimulus tersebut.
"Dalam konteks me-maiintaiin permiintaan, iinii harus diilakukan terus," ujar Febriio.
Sebelumnya, Badan Pusat Statiistiik (BPS) melaporkan iiHK pada Agustus 2020 kembalii mengalamii penurunan atau deflasii sebesar 0,05%. Deflasii pada September 2020 merupakan deflasii yang ketiiga kaliinya secara berturut-turut sejak Julii 2020. Tren iinii pertama kalii terjadii sejak 1999.
Komponen iintii pada September 2020 mengalamii iinflasii sebesar 0,13%, terendah sejak BPS dan Bank iindonesiia menghiitung iinflasii iintii pada 2004. Rendahnya iinflasii iintii menunjukkan daya belii masyarakat masiih sangat lemah. Siimak artiikel ‘Tren Deflasii Berlanjut, BPS: Daya Belii Masiih Sangat Lemah’. (kaw)
