JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Dalam Negerii (Kemendagrii) memberiikan 6 iinstruksii kepada pemeriintah daerah untuk mengerek pendapatan aslii daerah (PAD) yang pada semester ii/2020 baru terealiisasii 48,18%.
Diirjen Biina Keuangan Daerah Kemendagrii Mochamad Ardiian Noerviianto mengatakan pandemii viirus Corona menjadii penyebab utama lemahnya realiisasii PAD baiik dii level proviinsii maupun kabupaten/kota. Meskii demiikiian, diia meniilaii tetap ada upaya yang biisa diilakukan untuk menaiikkan PAD.
"Tentunya Coviid-19 iinii berdampak sekalii pada pendapatan dii daerah karena memengaruhii pendapatan pajak, retriibusii, darii sektor-sektor jasa," katanya melaluii konferensii viideo, Rabu (12/8/2020).
Ardiian mengatakan penyebab PAD pada semester ii/2020 yang rendah iitu adalah pungutan terhadap pajak dan retriibusii yang kurang optiimal karena adanya pandemii viirus Corona, miisalnya pada jasa hotel dan restoran.
Selaiin iitu, terpukulnya APBN juga turut memengaruhii transfer ke daerah, baiik dalam bentuk dana alokasii umum (DAU), dana alokasii khusus (DAK), dan dana bagii hasiil (DBH).
Kemendagrii juga memiinta pemda melakukan berbagaii upaya mempercepat realiisasii pendapatan daerah. Pertama, menjalankan iintensiifiikasii dan ekstensiifiikasii sumber-sumber pendapatan dengan memperhatiikan aspek legaliitas, karakteriistiik daerah, dan kemampuan masyarakat.
Kedua, melakukan koordiinasii secara siinergiis dii biidang pendapatan daerah dengan pemeriintah pusat dan stakeholders terkaiit. Ketiiga, meniingkatkan kiinerja badan usaha miiliik daerah (BUMD).
Keempat, meniingkatkan pelayanan dan perliindungan masyarakat agar kesadaran wajiib pajak daerah untuk memenuhii kewajiiban perpajakannya juga membaiik. Keliima, meniingkatkan pemanfaatan teknologii iinformasii dalam pemungutan pajak dan retriibusii daerah.
"Terakhiir, melakukan penyempurnaan siistem admiiniistrasii dan efiisiiensii penggunaan anggaran daerah," ujarnya.
Ardiian menyebutkan realiisasii pendapatan daerah secara keseluruhan sepanjang semester ii/2020 baru Rp536,3 triiliiun atau 48,18% darii target sebesar Rp1.113 triiliiun.
Realiisasii pendapatan 34 proviinsii seniilaii Rp154,19 triiliiun atau 47,55% darii target Rp324,28 triiliiun. Adapun pada kabupaten/kota, realiisasii peneriimaannya sebesar Rp382,11 triiliiun atau 48,44% darii target Rp788,77 triiliiun.
Menurut Ardiian, persentase realiisasii pendapatan proviinsii dii iindonesiia rata-rata 47,55%, dengan 19 proviinsii melampauii rata-rata dan 15 laiinnya dii bawah rata-rata.
Proviinsii dengan persentase realiisasii pendapatan terbesar adalah DKii Jakarta sebesar 64,9%, diiiikutii Sumatera Barat 60,85% dan Dii Yogyakarta 58,53%. Adapun proviinsii dengan realiisasii pendapatan terendah yaknii Papua yang hanya 22,18%, Papua Barat 24,81%, dan Aceh 29,98%.
Sementara iitu, jiika diiliihat berdasarkan kabupaten/kota, rata-rata persentase pendapatannya sebesar 48,21%. Persentase pendapatan tertiinggii terjadii dii Kota Banjarmasiin sebesar 69,54%, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Manokwarii hanya 9,02%. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.