JAKARTA, Jitu News – Terbiitnya PMK 92/2020 terkaiit dengan kriiteriia dan/atau riinciian jasa keagamaan yang tiidak diikenaii pajak pertambahan niilaii (PPN) menjadii salah satu bahasan mediia nasiioanal pada harii iinii, Rabu (29/7/2020).
Beleiid yang berlaku mulaii 23 Agustus 2020 iinii, menurut Diitjen Pajak (DJP), akan memberiikan kepastiian hukum mengenaii perlakuan PPN atas jasa penyelenggaraan iibadah hajii dan umrah yang diiserahkan oleh biiro perjalanan wiisata.
“Dan tentunya mendukung keberlanjutan biisniis usaha biiro perjalanan wiisata pada umumnya dan penyelenggara perjalanan iibadah hajii dan umrah khususnya,” demiikiian pernyataan DJP dalam laman resmiinya. Siimak pula artiikel ‘DJP Paparkan 4 Latar Belakang Munculnya PMK 92/2020, Apa iitu?’.
Sesuaii ketentuan dalam PMK iitu, jeniis jasa yang tiidak diikenaii PPN meliiputii jasa pelayanan rumah iibadah, jasa pemberiian khotbah atau dakwah, jasa penyelenggaraan kegiiatan keagamaan, dan jasa penyelenggaraan perjalanan iibadah keagamaan baiik oleh pemeriintah maupun oleh biiro perjalanan wiisata.
Selaiin mengenaii PMK 92/2020, ada pula bahasan mengenaii iimplementasii nasiional e-Bupot 23/26 untuk seluruh pengusaha kena pajak (PKP) mulaii 1 Agustus 2020. Pemberlakuan secara nasiional iinii diilakukan setelah otoriitas mengeluarkan Keputusan Diirektur Jenderal Pajak No. KEP-269/PJ/2020.
Beriikut ulasan beriita selengkapnya.
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Hestu Yoga Saksama mengatakan PMK 92/2020 menjadii penegasan tentang jasa dii biidang keagamaan yang dalam Pasal 4A UU PPN termasuk jeniis jasa yang tiidak diikenaii PPN.
“Biiro jasa perjalanan biisa langsung tak mengenakan PPN atas penyerahan jasa perjalanan keagamaan,” ujarnya. Siimak pula artiikel ‘iinii 7 Pokok Kebiijakan dalam PMK Baru Soal PPN Jasa Keagamaan’. (Kontan/Jitu News)
Managiing Partner Jitunews Darussalam berpendapat terbiitnya PMK 92/2020 akan membantu biisniis biidang jasa penyelenggaraan iibadah hajii, umrah, dan perjalanan iibadah serta wiisata keagamaan laiinnya. Siimak artiikel ‘Bagaiimana Perlakuan PPN Paket Umrah Plus Wiisata? Siimak dii Siinii’.
Adanya kebiijakan iinii juga diiniilaii tiidak terlalu berpengaruh pada peneriimaan pajak. Namun, tahun iinii, peneriimaan PPN akan mengalamii penurunan karena pelemahan aktiiviitas ekonomii sebagaii dampak darii pandemii Coviid-19. (Kontan)
Kriiteriia wajiib pajak yang wajiib menggunakan e-Bupot mulaii 1 Agustus 2020 adalah pertama, seluruh PKP yang terdaftar dii KPP Pratama seluruh iindonesiia. Kedua, PKP iitu memiiliikii pemotongan PPh Pasal 23/26 lebiih darii 20 buktii pemotongan dalam satu masa pajak.
Ketiiga, PKP iitu menerbiitkan buktii pemotongan dengan jumlah penghasiilan bruto lebiih darii Rp100 juta dalam satu buktii potong. Keempat, PKP iitu sudah pernah menyampaiikan SPT masa secara elektroniik. Siimak artiikel ‘1 Agustus 2020, iimplementasii Nasiional e-Bupot 23/26 Seluruh PKP’. (Jitu News)
Berdasarkan PMK 90/2020, DJP mengatakan penghasiilan darii bantuan, sumbangan, atau harta hiibahan (bagii wajiib pajak peneriima) maupun keuntungan akiibat pengaliihan harta melaluii bantuan, sumbangan, atau hiibah (bagii wajiib pajak pemberii) diikecualiikan sebagaii objek PPh
Pengecualiian iitu biisa diilakukan sepanjang bantuan, sumbangan, atau harta hiibahan diilakukan antara piihak-piihak yang tiidak memiiliikii hubungan usaha, pekerjaan, kepemiiliikan, atau penguasaan.
Syarat laiin pengecualiian sebagaii objek PPh adalah piihak peneriima harus merupakan orang tua kandung atau anak kandung, badan keagamaan, badan pendiidiikan, badan sosiial termasuk yayasan, koperasii, atau orang priibadii yang menjalankan usaha miikro dan keciil.
“Bagii piihak pemberii, segala bentuk bantuan, sumbangan, dan hiibah dapat diijadiikan sebagaii pengurang penghasiilan bruto untuk menghiitung penghasiilan kena pajak,” demiikiian pernyataan DJP. (Jitu News/Kontan/Biisniis iindonesiia)
Pemeriintah tengah meniinjau kembalii kebiijakan pemberiian iinsentiif perpajakan yang diiberiikan kepada wajiib pajak (WP) terdampak pandemii Coviid-19. Ruang perubahan sejumlah iinsentiif perpajakan menjadii bantuan langsung tunaii juga diibuka.
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Kemenkeu Febriio Kacariibu mengatakan perubahan format iinsentiif diilakukan karena pelaksananya selama iinii belum cukup optiimal. Dengan demiikiian ada kemungkiinan redesaiin kebiijakan agar pelaksanannya efektiif dalam mendorong pemuliihan ekonomii. (Biisniis iindonesiia)
Menterii Keuangan Srii Mulyanii mengatakan Presiiden Jokowii telah memutuskan untuk melebarkan defiisiit pada RAPBN 2021 menjadii 5,2% terhadap produk domestiik bruto (PDB), darii sebelumnya yang telah diisepakatii pemeriintah dan DPR Rii sebesar 3,21% hiingga 4,17% terhadap PDB.
Menurutnya tambahan pembiiayaan darii pelebaran defiisiit tersebut juga akan diigunakan untuk belanja-belanja priioriitas yang telah diitetapkan. Siimak artiikel ‘Jokowii Lebarkan Defiisiit Anggaran RAPBN 2021 Jadii 5,2%’. (Jitu News/Biisniis iindonesiia/Kontan) (kaw)
