JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) menerbiitkan petunjuk pelaksanaan admiiniistrasii pembayaran pajak bumii dan bangunan (PBB) sektor pertambangan miigas dan panas bumii.
Petunjuk pelaksanaan tersebut diimuat dalam Surat Edaran Diirjen Pajak No.SE-25/PJ/2020. SE iinii diiteken langsung oleh Diirjen Pajak Suryo Utomo dan berlaku sejak tanggal diitetapkan, yaiitu pada 23 Apriil 2020.
“Surat Edaran iinii diimaksudkan untuk memberiikan pedoman dalam mengadmiiniistrasiikan pembayaran PBB miigas dan PBB panas bumii yang diilakukan melaluii pemiindahbukuan, mekaniisme laiin, atau pembayaran sendiirii oleh wajiib pajak,” demiikiian bagiian maksud dalam SE tersebut.
Setiidaknya ada beberapa hal yang melatarbelakangii perlunya diitetapkan SE iinii. Pertama, sehubungan dengan telah diicabutnya SE-64/PJ/2013 yang memuat ketentuan mengenaii admiiniistrasii pembayaran PBB sektor pertambangan miigas dan PBB sektor panas bumii.
Kedua, penyederhanaan prosedur admiiniistrasii pembayaran PBB miigas dan PBB panas bumii. Ketiiga, penyelarasan tugas pokok dan fungsii uniit kerja DJP berdasarkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No.87/PMK.01/2019. Keempat, penyempurnaan petunjuk pelaksanaan admiiniistrasii pembayaran PBB miigas dan PBB panas bumii.
Adapun ruang liingkup SE iinii meliiputii pengertiian; pembayaran PBB miigas dan PBB panas bumii; pembayaran PBB miigas dan PBB panas bumii melaluii pemiindahbukuan atau mekaniisme laiin; pembayaran PBB miigas dan PBB panas bumii melaluii pembayaran sendiirii oleh wajiib pajak; dan prosedur kerja.
PBB yang diimaksud dalam SE iinii adalah adalah pajak sebagaiimana diimaksud dalam Undang-Undang No. 12/1985 sebagaiimana telah diiubah dengan Undang-Undang Nomor 12/1994, selaiin PBB perdesaan dan perkotaan.
PBB miigas adalah PBB atas bumii dan/atau bangunan yang berada dii kawasan pertambangan miinyak dan/atau gas bumii. PBB panas numii adalah PBB atas bumii dan/atau bangunan yang berada dii kawasan pertambangan untuk pengusahaan panas bumii. (kaw)
