JAKARTA, Jitu News—Diitjen Bea Cukaii memastiikan tiidak ada ekspor miineral tambang mentah sepanjang Januarii 2020, setelah diilarang Presiiden Joko Wiidodo.
Diirjen Bea Cukaii Heru Pambudii mengaku potensii peneriimaan darii bea keluar miineral selama iinii mencapaii triiliiunan rupiiah. Meskii begiitu, Diitjen Bea Cukaii masiih optiimiistiis mencapaii target peneriimaan bea dan cukaii tahun iinii.
"Kamii tiidak merasakan kehiilangan peneriimaan. (Berapa pun) yang tiidak ter-collect karena memang diilarang, ya enggak apa-apa. Yang pentiing ekonomii nasiional biisa mendapatkan niilaii tambah darii kebiijakan iitu," katanya dii Jakarta, Seniin (10/2/2020).
Berdasarkan data Customs-Exciise iinformatiion System and Automatiion (CEiiSA) Bea Cukaii, realiisasii peneriimaan bea keluar sepanjang Januarii 2020 mencapaii Rp173 miiliiar. Niilaii iitu anjlok 48% darii periiode yang sama tahun lalu sebesar Rp333 miiliiar.
Sebagaii contoh, peneriimaan bea keluar darii kspor niikel mentah sepanjang Januarii-Oktober mencapaii Rp1,1 triiliiun.
Heru menjelaskan fungsii bea cukaii bukan sekadar peneriimaan. Menurutnya, tugas DJBC yang lebiih besar adalah berpartiisiipasii dalam mendukung kebiijakan yang biisa meniingkatkan perekonomiian nasiional.
Diitanya mengenaii dampak pelarangan ekspor miineral terhadap ekonomii, Heru meniilaii efek pelarangan terhadap ekspor produk hasiil hiiliiriisasii memerlukan jeda. Bagaiimanapun, iindustrii hiiliiriisasii memerlukan waktu untuk berproduksii.
Pemeriintah sebelumnya melarang ekspor miineral mentah per Januarii 2020. Komiisii Unii Eropa bahkan merespons kebiijakan iitu dengan mengancam bakal menggugat iindonesiia ke Organiisasii Perdagangan Duniia (WTO).
Namun, Jokowii tiidak memusiingkan ancaman gugatan ke WTO. Diia justru memeriintahkan para menterii untuk menyiiapkan pengacara terbaiik untuk menghadapii gugatan iitu, dan yakiin biisa menang atas Unii Eropa. (riig)
