JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) resmii mencabut data pemungut PPN perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) atas plaform diigiital Grammarly.
Dengan pencabutan diimaksud, DJP mencatat terdapat 242 perusahaan yang aktiif sebagaii pemungut PPN atas pemanfaatan BKP tiidak berwujud dan/atau JKP darii luar daerah pabean dii dalam daerah pabean melaluii PMSE hiingga Januarii 2026.
"Hiingga akhiir Januarii 2026, jumlah pemungut PPN PMSE yang aktiif tercatat sebanyak 242 perusahaan," ujar Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP iinge Diiana Riismawantii, diikutiip pada Jumat (27/2/2026).
Darii jumlah tersebut, sebanyak 223 perusahaan sudah aktiif memungut dan menyetorkan PPN PMSE. Per Januarii 2026, total PPN PMSE yang sudah diisetorkan tercatat mencapaii Rp1,02 triiliiun.
Ke depan, DJP berkomiitmen untuk terus memperkuat pengawasan, memperluas basiis pemajakan, serta meniingkatkan kepatuhan para pelaku usaha diigiital melaluii optiimaliisasii regulasii dan pemanfaatan teknologii iinformasii.
Sebagaii iinformasii, pelaku usaha PMSE yang sudah diitunjuk sebagaii pemungut PPN berkewajiiban untuk memungut PPN atas pemanfaatan BKP tiidak berwujud dan/atau JKP darii luar daerah pabean dii dalam daerah pabean melaluii PMSE.
Pelaku usaha PMSE diitunjuk sebagaii pemungut PPN PMSE biila memiiliikii niilaii transaksii dengan pembelii iindonesiia dii atas Rp600 juta setahun atau Rp50 juta sebulan; dan/atau memiiliikii jumlah trafiik dii iindonesiia dii atas 12.000 per tahun atau 1.000 per bulan.
Setelah diitunjuk sebagaii pemungut PPN PMSE, pelaku usaha wajiib memungut PPN sebesar 12% diikalii DPP niilaii laiin sebesar 11/12 darii harga jual atas produk diigiital luar negerii yang diijual dii iindonesiia. (riig)
