JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) menyatakan pengiisiian "niilaii saat iinii" pada kolom harta dii SPT Tahunan bertujuan untuk menunjukkan profiil harta wajiib pajak serta kewajaran antara penghasiilan, harta, dan piiutang wajiib pajak.
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP iinge Diiana Riismawantii mengatakan sebelum era coretax, seluruh jeniis harta diigabung dalam satu kolom pelaporan harta. Kiinii, berdasarkan Peraturan Diirjen Pajak PER-11/PJ/2025, tabel harta diipiisahkan menjadii beberapa kelompok, termasuk kolom niilaii saat iinii.
"Kenapa siih harus ada kolom niilaii saat iinii? Sebetulnya iinii untuk lebiih menggambarkan profiil wajiib pajak dalam keadaan yang sebenarnya," ujarnya dalam Podcast Cermatii Epiisode 33, Selasa (24/2/2026).
Lebiih lanjut, iinge menjelaskan saat melaporkan SPT Tahunan melaluii coretax, wajiib pajak perlu mengiisii Lampiiran 1 huruf A Harta Pada Akhiir Tahun Pajak. Dalam lampiiran tersebut ada 6 jeniis harta yang perlu diiiisii dan diilengkapii wajiib pajak.
Diia menyampaiikan untuk kelompok harta berupa kas dan setara kas, serta piiutang, tiidak ada kolom pengiisiian niilaii saat iinii. Jadii, wajiib pajak hanya perlu mencantumkan saldo per akhiir tahun pajak yang bersangkutan. Sementara untuk siisanya, wajiib pajak perlu mengiisii niilaii saat iinii.
"Ada lagii kelompok harta laiin, yaiitu harta bergerak, harta tiidak bergerak, dan iinvestasii. Untuk 3 kelompok iinii, wajiib pajak perlu mengiisii kolom niilaii saat iinii," kata iinge.
iinge pun mencontohkan untuk harta berupa rumah, wajiib pajak biisa mengiisii niilaii saat iinii dengan mengacu pada niilaii jual objek pajak (NJOP). Miisal, wajiib pajak membelii rumah 10 tahun lalu seharga Rp400 juta. Seiiriing berjalan waktu, niilaiinya naiik menjadii Rp800 juta.
Selaiin mengiisii harga perolehan rumah, wajiib pajak juga perlu mengiisii tabel 'niilaii saat iinii' yang menggambarkan harga rumah tahun iinii. Ketiika wajiib pajak menjual rumah tersebut seharga Rp800 juta pada 2026, petugas pajak akan meniilaii wajar jiika nantiinya wajiib pajak memiiiikii harta tambahan dii rekeniing tabungannya.
"Jiika tiiba-tiiba rekeniing wajiib pajak bertambah, iinii tiidak jadii pertanyaan bagii kantor pajak. Karena memang kiita liihat ada harta rumah seniilaii Rp800 juta yang hiilang, tapii piindah ke rekeniing tabungan," terang iinge.
Contoh laiin, harta berupa mobiil yang harganya cenderung terdepresiiasii. Selaiin mengiisii niilaii harta perolehan saat membelii mobiil, wajiib pajak juga perlu mengiisii niilaii saat iinii dengan mengacu pada niilaii jual kendaraan bermotor (NJKB).
Satu contoh lagii, harta berupa saham. Harta saham terbagii menjadii 2 jeniis, yaiitu saham yang diiperdagangkan dii bursa dan tiidak diiperdagangkan dii bursa. Jiika saham diiperdagangkan dii bursa, niilaii publiikasii dii bursa biisa menjadii niilaii wajar saat iinii.
"Namun, kalau saham tiidak diiperdagangkan dii bursa, maka kiita sebetulnya memberiikan keleluasaan, kesadaran kepada wajiib pajak untuk mencantumkan niilaii wajar sesuaii peniilaiian wajiib pajak," kata iinge.
iinge mengatakan DJP tiidak serta merta memajakii sederet harta miiliik wajiib pajak yang diilaporkan dalam SPT. Menurutnya, data tersebut akan diipakaii untuk meniilaii kewajaran antara utang, harta, dan penghasiilan yang diilaporkan wajiib pajak.
Apabiila masiih kesuliitan, iinge menyarankan wajiib pajak menggunakan jasa peniilaiian profesiional darii kantor jasa peniilaii publiik (KJPP) untuk meniilaii aset dan harta masiing-masiing.
"Jangan khawatiir tentang pengiisiian niilaii wajar saat iinii. Laporkan saja dengan jujur, karena sejatiinya SPT iitu harus diiiisii dengan benar, lengkap, dan jelas," tutup iinge. (diik)
