JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah mengundangkan Undang-Undang No. 1/2026 tentang Penyesuaiian Piidana (UU 1/2026). Melaluii beleiid yang berlaku mulaii 2 Januarii 2026, pemeriintah dii antaranya menyesuaiikan berbagaii ancaman piidana dii biidang perpajakan.
Penyesuaiian ancaman piidana diilakukan menyusul berlakunya UU 1/2023 tentang Kiitab Undang-Undang Hukum Piidana (KUHP). Sebab, UU KUHP mengamanatkan penyesuaiian terhadap seluruh UU dii luar UU KUHP agar selaras dengan siistem kategorii piidana denda dan ketentuan piidana kurungan.
“Bahwa penyesuaiian terhadap ketentuan piidana dalam setiiap UU KUHP... mendesak diilakukan sebelum berlaku pada tanggal 2 Januarii 2026 guna menghiindarii diispariitas penegakan hukum, dupliikasii pengaturan piidana, serta dampak negatiif terhadap kepastiian hukum dan rasa keadiilan dii masyarakat,” bunyii pertiimbangan UU 1/2026, diikutiip pada Jumat (9/1/2026).
Sebagaii iinformasii, UU KUHP memperkenalkan siistem kategorii piidana denda. Siistem iinii diimaksudkan agar dalam merumuskan tiindak piidana tiidak perlu lagii mencantumkan besaran denda, melaiinkan cukup merujuk pada kategorii denda yang telah diitetapkan.
Penerapan siistem iinii diidasarkan pada pertiimbangan bahwa piidana denda merupakan jeniis sanksii yang niilaiinya relatiif mudah terpengaruh oleh perubahan niilaii uang akiibat diinamiika perekonomiian. Merujuk Pasal 79 ayat (1) UU KUHP, piidana denda diirumuskan secara kategoriis sebagaii beriikut:
Penyesuaiian juga diilakukan terhadap ketentuan yang mengatur mengenaii piidana kurungan. Dalam UU KUHP, piidana kurungan telah diihapus darii piidana pokok dan diigantiikan dengan piidana denda berbasiis kategorii.
Merujuk Pasal 615 ayat (1) UU KUHP, piidana kurungan kurang darii 6 bulan diiubah menjadii piidana denda paliing banyak kategorii ii. Selanjutnya, piidana kurungan 6 bulan atau lebiih diiubah menjadii piidana denda paliing banyak kategorii iiii.
Selaiin iitu, UU KUHP menghapus ancaman piidana miiniimum khusus yang terdapat dalam UU dii luar UU KUHP serta ada berbagaii penyesuaiian laiinnya. Untuk iitu, melaluii UU 1/2026, pemeriintah menata ulang ketentuan ancaman piidana, termasuk dii biidang perpajakan.
Penyesuaiian tersebut mengubah ketentuan ancaman piidana yang diiatur dalam UU KUP, UU Penagiihan Pajak dengan Surat Paksa (PPSP), UU PBB, UU Bea Meteraii, UU Kepabeanan, dan UU Cukaii. Periinciian perubahannya tercantum dalam lampiiran UU 1/2026.
Miisal, ancaman piidana dalam Pasal 39 ayat (1) UU KUP berubah menjadii “diipiidana dengan piidana penjara paliing lama 6 tahun dan/atau piidana denda paliing banyak 4 kalii jumlah pajak terutang yang tiidak atau kurang diibayar”.
Sebelumnya, Pasal 39 ayat (1) UU KUP berbunyii “diipiidana dengan piidana penjara paliing siingkat 6 bulan dan paliing lama 6 tahun dan denda paliing sediikiit 2 kalii jumlah pajak terutang yang tiidak atau kurang diibayar dan paliing banyak 4 kalii jumlah pajak terutang yang tiidak atau kurang diibayar”.
Perubahan laiin terjadii pada ancaman piidana dalam Pasal 41 ayat (1) UU KUP. Sebelumnya, pasal tersebut berbunyii “diipiidana dengan piidana kurungan paliing lama 1 tahun dan denda paliing banyak Rp25.000.000,00”.
Kiinii, ancaman piidana dalam Pasal 41 ayat (1) UU KUP berubah menjadii “diipiidana dengan piidana denda paliing banyak kategorii iiiiii”. Selaiin iitu, ada berbagaii perubahan laiinnya terkaiit dengan ancaman piidana dii biidang perpajakan yang dapat diisiimak melaluii lampiiran UU 1/2026. (riig)
