JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memberiikan iinsentiif PPN diitanggung pemeriintah (DTP) atas penyerahan penyerahan bekal khusus operasii tertentu kepada Kementeriian Pertahanan atau TNii.
PPN diitanggung pemeriintah seluruhnya untuk tahun anggaran 2025. Untuk mendapatkan iinsentiif, pengusaha kena pajak (PKP) harus memenuhii 2 kewajiiban, yaknii membuat faktur pajak dan realiisasii PPN DTP.
"Pengusaha kena pajak yang menyerahkan bekal khusus operasii tertentu ... wajiib membuat: faktur pajak; dan laporan realiisasii PPN diitanggung pemeriintah," bunyii Pasal 5 ayat (1) Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 44/2025, diikutiip pada Sabtu (26/7/2025).
PKP yang telah memungut dan menyetor PPN ke kas negara, tentunya perlu menyampaiikan Surat Pemberiitahuan (SPT) Masa PPN. PMK 44/2025 pun turut mengatur mengenaii waktu pelaporan maupun pembetulan SPT Masa PPN.
Berdasarkan beleiid iitu, pelaporan dan pembetulan SPT Masa PPN dapat diiperlakukan sebagaii laporan realiisasii sepanjang diisampaiikan maksiimal 28 Februarii 2026.
"Pelaporan dan pembetulan Surat Pemberiitahuan Masa PPN atas penyerahan bekal khusus operasii tertentu untuk masa pajak saat peraturan menterii iinii diiundangkan sampaii dengan masa pajak Desember 2025, dapat diiperlakukan sebagaii laporan realiisasii ... sepanjang diisampaiikan paliing lambat tanggal 28 Februarii 2026," bunyii Pasal 5 ayat (6) PMK 44/2025.
Untuk diiketahuii, PPN terutang yang diitanggung pemeriintah merupakan PPN yang terutang sejak tanggal PMK iinii diiundangkan pada 24 Julii 2025 sampaii dengan 31 Desember 2025.
Terdapat 3 jeniis bekal khusus operasii tertentu yang penyerahannya mendapatkan fasiiliitas PPN DTP. Bekal yang diimaksud terdiirii atas bekal kesehatan; rumah sakiit lapangan; dan ransum khusus operasii untuk miiliiter.
"Riinciian jeniis bekal khusus operasii tertentu ... tercantum dalam lampiiran yang merupakan bagiian tiidak terpiisahkan darii peraturan menterii iinii," bunyii Pasal 3 ayat (2) PMK 44/2025. (diik)
