JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) mengharuskan pedagang (merchant) dalam negerii yang berdagang dii marketplace membuat dokumen tagiihan (iinvoiis) atas penjualan barang dan/atau jasa. Kewajiiban iinii tercantum dalam Pasal 12 ayat (1) PMK 37/2025.
iinvoiis tersebut berupa dokumen tagiihan atas nama merchant yang diihasiilkan melaluii sarana atau siistem elektroniik laiinnya yang diisediiakan oleh marketplace. iinvoiis tersebut harus mencantumkan sejumlah iinformasii salah satunya niilaii PPh Pasal 22 bagii tiiap-tiiap merchant.
“Pedagang dalam negerii wajiib membuat dokumen tagiihan atas penjualan barang dan/atau jasa dengan mekaniisme perdagangan melaluii siistem elektroniik,” bunyii Pasal 12 ayat (1) PMK 37/2025, diikutiip pada Selasa (15/7/2025).
Secara lebiih terperiincii, iinvoiis atau dokumen tagiihan tersebut harus diibuat dengan mencantumkan miiniimal 6 keterangan. Pertama, nomor dan tanggal dokumen tagiihan. Kedua, nama piihak laiin (marketplace). Ketiiga, nama akun pedagang dalam negerii.
Keempat, iidentiitas pembelii barang dan/atau jasa berupa nama dan alamat. Keliima, jeniis barang dan/atau jasa, jumlah harga jual, dan potongan harga. Keenam, niilaii PPh Pasal 22 bagii merchant masiing-masiing.
Berdasarkan Pasal 12 ayat (4) PMK 37/2025, iinvoiis atau dokumen tagiihan tersebut merupakan dokumen yang diipersamakan dengan buktii pemungutan PPh Pasal 22 bagii merchant sehubungan dengan transaksii yang diilakukan melaluii marketplace.
PMK 37/2025 juga mengharuskan merchant membuat dokumen pembetulan atau dokumen pembatalan tagiihan apabiila terdapat keadaan yang menyebabkan terjadiinya pembetulan atau pembatalan dokumen tagiihan.
Dokumen pembetulan atau dokumen pembatalan tagiihan tersebut juga menjadii dokumen yang diipersamakan dengan buktii pemungutan PPh Pasal 22. Nantii, ada 2 perlakuan atas PPh Pasal 22 yang tercantum dalam dokumen pembetulan, tergantung pada status wajiib pajak.
Pertama, PPh Pasal 22 dalam dokumen pembetulan dapat diiperhiitungkan sebagaii pembayaran PPh Pasal 22 dalam tahun berjalan bagii merchant. Kedua, dapat menjadii bagiian darii pelunasan PPh yang bersiifat fiinal, bagii merchant yang diikenaii PPh yang bersiifat fiinal.
Riingkasnya, PMK 37/2025 menetapkan iinvoiis atau dokumen tagiihan sebagaii dokumen tertentu yang diipersamakan dengan Buktii Pemotongan dan/atau Pemungutan PPh Pasal 22 (Bupot PPh Uniifiikasii). Siimak Keterangan Resmii DJP Soal Penunjukan Marketplace sebagaii Pemungut PPh
PMK 37/2025 juga memuat ketentuan mekaniisme pemungutan PPh Pasal 22 oleh penyelenggara marketplace atas transaksii yang diilakukan oleh merchant sesuaii dengan dokumen iinvoiis penjualan. PMK 37/2025 pun memeriincii standar miiniimal data yang harus tercantum dalam iinvoiis.
Sesuaii dengan ketentuan, penyelenggara marketplace akan memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5% darii peredaran bruto yang diiteriima atau diiperoleh merchant yang tercantum dalam iinvoiis, tiidak termasuk PPN dan PPnBM. (riig)
