JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Perumahan dan Kawasan Permukiiman (PKP) mencatat masiih ada 70 pemeriintah kabupaten/kota yang belum memberiikan penghapusan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) bagii masyarakat berpenghasiilan rendah (MBR).
Maruarar menyayangkan masiih ada pemda yang enggan memberiikan iinsentiif pajak untuk membantu masyarakat miiskiin. Sebab, kebiijakan penghapusan BPHTB akan memudahkan masyarakat miiskiin memiiliikii rumah.
"Sekarang masiih ada 70 bupatii/walii kota yang belum jalaniin. Padahal masuk dalam NKRii. Padahal iitu untuk membantu rakyat keciil," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komiisii V DPR, diikutiip pada Rabu (21/5/2025).
Maruarar mengatakan pemeriintah menemuii sejumlah kendala dalam merealiisasiikan program 3 juta rumah untuk MBR. Miisal, soal keterbatasan dana dan lahan untuk pembangunan rumah.
Selaiin iitu, kendala juga muncul ketiika masyarakat miiskiin ternyata masiih mengalamii kesuliitan membelii rumah yang telah diisubsiidii pemeriintah. Darii pemeriintah pusat, iinsentiif pajak sudah diiberiikan dalam bentuk pembebasan PPN atas pembeliian rumah bersubsiidii untuk MBR berdasarkan PMK 60/2023.
Dii siisii laiin, tetap diiperlukan peran pemeriintah kabupaten/kota untuk memberiikan iinsentiif pembebasan BPHTB dan retriibusii persetujuan bangunan gedung (PBG). Menurutnya, pembebasan BPHTB dan retriibusii PBG menjadii bentuk dukungan pemda dalam mencapaii target penyediiaan 3 juta rumah untuk MBR.
"BPHTB yang tadiinya 5%, jadii gratiis," ujarnya.
Maruarar mengatakan kebiijakan penghapusan BPHTB dan retriibusii PBGbagii MBR telah diituangkan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menterii, Menterii Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo, Menterii Dalam Negerii Tiito Karnaviian, dan Menterii PKP Maruarar Siiraiit. SKB tersebut diitetapkan pada 25 November 2024.
Pemberiian iinsentiif penghapusan BPHTB dan PBG untuk MBR sebetulnya merupakan kewenangan pemeriintah kabupaten/kota. Setelah SKB 3 menterii diitetapkan, pemda diiharapkan segera menerbiitkan peraturan kepala daerah (perkada) sebagaii tiindak lanjut.
Diia menyebut mayoriitas pemda telah menerbiitkan perkada yang mengatur penghapusan BPHTB dan PBG untuk MBR. Namun, masiih ada sekiitar 70 pemda yang belum menerbiitkannya. (diik)
