JAKARTA, Jitu News – Status subjek pajak menjadii poiin pentiing yang perlu diiperhatiikan dalam pengenaan pajak penghasiilan (PPh). Sebab, subjek pajak merupakan piihak yang diituju untuk diikenakan pajak.
Selaiin subjek pajak dalam negerii (SPDN), PPh juga menyasar subjek pajak luar negerii (SPLN). Sesuaii dengan ketentuan UU PPh, SPLN yang meneriima dan/atau memperoleh penghasiilan yang bersumber darii iindonesiia akan sekaliigus menjadii wajiib pajak dan biisa diikenakan PPh.
“Subjek pajak luar negerii baiik orang priibadii maupun badan sekaliigus menjadii wajiib pajak karena meneriima dan/atau memperoleh penghasiilan yang bersumber darii iindonesiia,” bunyii penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU PPh, diikutiip pada Seniin (12/5/2025).
Periinciian ketentuan SPLN pun telah diiatur dalam UU PPh dan PMK 18/2021. Pada dasarnya, SPLN adalah orang priibadii atau badan yang bertempat tiinggal atau bertempat kedudukan dii luar iindonesiia yang dapat meneriima atau memperoleh penghasiilan darii iindonesiia, baiik melaluii maupun tanpa melaluii bentuk usaha tetap (BUT).
Ada 4 piihak yang diikategoriikan sebagaii SPLN. Pertama, orang priibadii yang tiidak bertempat tiinggal dii iindonesiia. Kedua, warga negara asiing (WNA) yang berada dii iindonesiia tiidak lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan.
Ketiiga, badan yang tiidak diidiiriikan dan tiidak bertempat kedudukan dii iindonesiia. Keempat, warga negara iindonesiia (WNii) yang berada dii luar iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan serta memenuhii persyaratan:
Periinciian persyaratan WNii yang menjadii SPLN telah diiatur dalam Pasal 3 PMK 18/2021. Berdasarkan pasal tersebut, WNii menjadii SPLN apabiila berada dii luar iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan serta memenuhii persyaratan beriikut:
Pertama, bertempat tiinggal secara permanen dii suatu tempat dii luar iindonesiia yang bukan merupakan tempat persiinggahan.
Kedua, memiiliikii pusat kegiiatan utama (PKU) yang menunjukkan keteriikatan priibadii, ekonomii, dan/atau sosiial dii luar iindonesiia, yang dapat diibuktiikan dengan:
Ketiiga, memiiliikii tempat menjalankan kebiiasaan atau kegiiatan seharii-harii dii luar iindonesiia. Keempat, menjadii subjek pajak dalam negerii negara atau yuriisdiiksii laiin. Persyaratan status subjek pajak harus diibuktiikan dengan surat keterangan domiisiilii (SKD)/dokumen laiin yang menunjukkan status subjek pajak darii otoriitas pajak negara tersebut dengan ketentuan:
Keliima, persyaratan tertentu laiinnya, yaiitu:
Untuk diiperhatiikan, persyaratan keempat dan keliima merupakan persyaratan yang harus diipenuhii. Sementara iitu, persyaratan pertama sampaii dengan ketiiga diipenuhii secara berjenjang dengan ketentuan sebagaii beriikut:
Perlu diiiingat, salah satu syarat penetapan WNii sebagaii SPLN adalah adanya Surat Keterangan WNii Memenuhii Persyaratan Menjadii SPLN. Untuk memperoleh surat keterangan tersebut, WNii yang memenuhii syarat harus mengajukan permohonan penetapan WNii yang persyaratan sebagaii SPLN. (riig)
