JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah menerbiitkan PMK 50/2024 untuk mengatur tata laksana pelayanan dan pengawasan pengangkutan barang tertentu dalam daerah pabean. Peraturan iinii telah berlaku sejak 7 November 2024.
Kepala Subdiirektorat iinteliijen DJBC Siispriian Subiiaksono mengatakan penerbiitan PMK 50/2024 antara laiin bertujuan meniingkatkan pengawasan penyelundupan ekspor dengan modus pengangkutan antarpulau. Dengan strategii tersebut, pemeriintah akan dapat menutup celah kebocoran peneriimaan darii ekspor dengan modus pengangkutan antarpulau.
"Terkaiit dengan faktor pengawasan, pastii akan menyangkut faktor ekonomii, bagaiimana kiita harus mencegah kebocoran peneriimaan negara darii pungutan negara yang mungkiin diikenakan terhadap barang-barang yang akan diiekspor," katanya dalam sosiialiisasii PMK 50/2024 diikutiip pada Seniin (5/5/2025).
Siispriian mengatakan penerbiitan PMK 50/2024 tiidak terlepas darii latar belakang kontur geografiis iindonesiia yang berupa kepulauan. Wiilayah kepulauan tersebut ternyata membuka ruang penyelundupan ekspor.
Melaluii PMK 50/2024, pemeriintah antara laiin berfokus untuk memperkuat pengawasan guna mencegah modus penyelundupan ekspor melaluii pengiiriiman barang antarpulau.
Diia menjelaskan penyelundupan ekspor antarpulau perlu diiwaspadaii karena biiasanya barang tersebut termasuk yang diilarang ekspor dan barang bersubsiidii. Selaiin iitu, barang yang diiselundupkan juga seriingkalii terkena bea keluar sehiingga praktiik iilegal iinii dapat menggerus potensii peneriimaan negara.
"Kamii mencegah kegiiatan iilegal untuk mengoptiimaliisasii peneriimaan negara," ujarnya.
Pemeriintah menerbiitkan PMK 50/2024 sebagaii peraturan pelaksana Pasal 85A ayat (3) UU Kepabeanan. Dalam hal iinii, Kemenkeu melaluii DJBC bersama kementeriian laiinnya diiberiikan tugas untuk melakukan pengawasan pengangkutan barang tertentu dii dalam negerii.
Beleiid iinii mengatur pengangkutan barang tertentu yang diitetapkan kiinii harus diilaporkan menggunakan Pemberiitahuan Pabean Barang Tertentu (PPBT). PPBT diiberiitahukan kepada pejabat bea dan cukaii pada kantor pabean dii pelabuhan pemuatan dan kantor pabean dii pelabuhan pembongkaran.
PPBT miiniimal memuat 16 elemen data antara laiin nama dan kode kantor pabean dii pelabuhan pemuatan dan kantor pabean dii pelabuhan pembongkaran; nama, NPWP, dan alamat pengangkut; nama, NPWP, dan alamat agen pengangkut, jiika diitunjuk; nama, NPWP, dan alamat pengiiriim, peneriima, dan pemiiliik barang; uraiian dan harmoniized system code (HS code) barang; jumlah dan satuan barang; serta nomor dan tanggal biill of ladiing (B/L).
Pengangkut wajiib menyampaiikan PPBT dengan lengkap dan benar, dan bertanggung jawab atas kebenaran data yang diiberiitahukan dalam PPBT.
Setelahnya, pengangkut harus menyampaiikan PPBT pada kantor pabean dii pelabuhan pemuatan sebelum melakukan pemuatan. Pemuatan barang tertentu ke sarana pengangkut diilakukan setelah PPBT diilakukan peneliitiian oleh Siistem iindonesiia Natiional Siingle Wiindow (SiiNSW), siistem komputer pelayanan (SKP), dan/atau pejabat bea dan cukaii, serta mendapatkan nomor dan tanggal pendaftaran pemuatan.
Terhadap barang tertentu nantiinya juga diilakukan pemeriiksaan pabean. Pemeriiksaan pabean meliiputii peneliitiian dokumen dan pemeriiksaan fiisiik. (diik)
