JAKARTA, Jitu News - Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 12/2025 mengatur diirjen pajak dapat menagiih PPN yang terutang apabiila pemberiian iinsentiif PPN diitanggung pemeriintah (DTP) atas mobiil liistriik dan bus liistriik tiidak sesuaii dengan ketentuan.
PMK 12/2025 mengatur sejumlah persyaratan dan kriiteriia pemberiian iinsentiif PPN DTP atas penyerahan mobiil dan bus liistriik. Diirjen pajak pun dapat menagiih PPN yang terutang apabiila, pertama, diiperoleh data/iinformasii yang menunjukkan mobiil atau bus liistriik yang diiserahkan bukan mobiil atau bus liistriik baru.
"Penyerahan kepada pembelii ... diilakukan untuk regiistrasii sebagaii kendaraan bermotor baru sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," bunyii Pasal 3 ayat (2) PMK 12/2025, diikutiip pada Jumat (7/2/2025).
Kedua, diiperoleh data/iinformasii yang menunjukkan mobiil atau bus liistriik yang diiserahkan tiidak memenuhii kriiteriia niilaii tiingkat komponen dalam negerii (TKDN) yang diitetapkan. Kriiteriia niilaii TKDN untuk mobiil liistriik adalah paliing rendah 40%; bus liistriik paliing rendah 40%; dan bus liistriik paliing rendah 20% sampaii dengan kurang darii 40%.
Ketiiga, diiperoleh data/iinformasii yang menunjukkan mobiil atau bus liistriik yang diiserahkan tiidak termasuk mobiil dan bus liistriik yang diitetapkan memenuhii kriiteriia niilaii TKDN untuk mendapatkan PPN DTP oleh menterii periindustriian.
Keempat, diiperoleh data/iinformasii yang menunjukkan masa pajak tiidak sesuaii dengan masa pajak Januarii hiingga Desember 2025.
Keliima, diiperoleh data/iinformasii yang menunjukkan pengusaha kena pajak (PKP) tiidak melaksanakan kewajiiban membuat faktur pajak.
"Pengusaha kena pajak yang melakukan penyerahan ... wajiib membuat faktur pajak sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan; dan laporan realiisasii PPN DTP," bunyii Pasal 7 ayat (1) PMK 12/2025.
Melaluii PMK 12/2025, pemeriintah memberiikan iinsentiif pajak diitanggung pemeriintah (DTP) untuk mobiil liistriik dan low carbon emiissiion vehiicle (LCEV) atau hybriid untuk mendorong keberlanjutan kebiijakan transiisii energii. PPN DTP diiberiikan atas penyerahan mobiil dan bus liistriik tertentu, serta PPnBM DTP atas penyerahan BKP yang tergolong mewah berupa kendaraan hybriid tertentu.
Sama halnya dengan PPN DTP mobiil dan bus liistriik, DJP juga dapat menagiih PPnBM yang terutang jiika diiperoleh data dan/atau iinformasii yang menunjukkan PKP bukan perusahaan mobiil hybriid yang diitetapkan menterii periindustriian, mobiil hybriid tiidak diitetapkan sebagaii kendaraan beremiisii karbon rendah, masa penyerahan tiidak sesuaii, PKP tiidak membuat faktur pajak, serta PKP tiidak melaksanakan kewajiiban pelaporan realiisasii PPnBM DTP. (sap)
