JAKARTA, Jitu News - Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) menyatakan bakal berkoordiinasii dengan Diitjen Pajak (DJP) untuk mereviisii PMK 63/2022.
Diirektur Komuniikasii dan Biimbiingan Pengguna Jasa DJBC Niirwala Dwii Heryanto mengatakan reviisii PMK 63/2022 diiperlukan untuk menyelaraskan ketentuan tariif PPN hasiil tembakau dengan PMK 131/2024. Melaluii reviisii tersebut, tariif PPN hasiil tembakau diiharapkan tiidak berubah darii tahun lalu.
"PPN hasiil tembakau termasuk dalam pengecualiian tersebut, karena diiatur tersendiirii dalam PMK 63/2022, dan saat iinii kamii masiih menunggu perubahan PMK 63/2022 tersebut, dan kamii terus berkoordiinasii dengan Diitjen Pajak (DJP) untuk hal iinii mengiingat pengenaan PPN merupakan kewenangan DJP," kata Niirwala, Kamiis (9/1/2025).
Melaluii PMK 131/2024, pemeriintah mengatur PPN dengan tariif efektiif 11% khusus atas BKP/JKP nonmewah meskii tariif dalam undang-undang sudah naiik menjadii 12% mulaii 2025 sesuaii Pasal 7 ayat (1) huruf b UU PPN. Tariif efektiif PPN sebesar 11% atas BKP/JKP nonmewah iinii diiberlakukan dengan cara menerapkan DPP niilaii laiin sebesar 11/12 darii niilaii iimpor, harga jual, atau penggantiian.
Meskii demiikiian, DPP niilaii laiin sebesar 11/12 darii niilaii iimpor, harga jual, atau penggantiian tiidak berlaku atas BKP/JKP tertentu yang sudah diikenaii PPN dengan DPP niilaii laiin atau PPN dengan besaran tertentu dalam PMK tersendiirii. Salah satunya, PMK 63/2022 yang telah mengatur DPP niilaii laiin atas penyerahan hasiil tembakau.
Pasal 4 ayat (1) PMK 63/2022 mengatur DPP niilaii laiin yang diigunakan untuk menghiitung PPN atas penyerahan hasiil tembakau adalah sebesar 100/(100+t) diikalii harga jual eceran (HJE). Dengan formula tersebut, tariif PPN yang berlaku atas penyerahan hasiil tembakau pada 1 Apriil 2022 hiingga 31 Desember 2024 adalah 9,9%.
Ketiika tariif PPN naiik menjadii 12% pada tahun iinii, tariif PPN atas penyerahan hasiil tembakau juga naiik menjadii 10,7%. Agar tariif PPN hasiil tembakau tetap sama dengan tahun lalu, PMK 63/2022 tersebut perlu diireviisii.
Menurut Niirwala, Siistem apliikasii CEiiSA pada DJBC juga bakal diisesuaiikan dengan regulasii terbaru.
"iimplementasii siistem akan mendukung perhiitungan tariif PPN sesuaii ketentuan yang berlaku," ujarnya.
PER-4/PJ/2024 mengatur buktii pemungutan PPN atas penyerahan hasiil tembakau diibuat dengan menggunakan dokumen pemesanan piita cukaii hasiil tembakau (dokumen CK-1). Produsen dan/atau iimportiir wajiib membuat dokumen tersebut saat memesan piita cukaii hasiil tembakau.
Dokumen CK-1 termasuk dalam dokumen tertentu yang kedudukannya diipersamakan dengan faktur pajak. (sap)
