KEBiiJAKAN PPN

Kenaiikan Tariif PPN Berdampak ke iindeks Kepercayaan iindustrii

Diian Kurniiatii
Selasa, 31 Desember 2024 | 14.30 WiiB
Kenaikan Tarif PPN Berdampak ke Indeks Kepercayaan Industri
<p>iilustrasii. Foto udara suasana salah satu kompleks perusahaan dii Kawasan iindustrii Terpadu Batang (KiiTB), Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamiis (19/12/2024). ANTARA FOTO/Harviiyan Perdana Putra/aww.</p>

JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Periindustriian meniilaii kenaiikan tariif PPN menjadii 12% pada 1 Januarii 2025 akan berdampak pada iindeks Kepercayaan iindustrii (iiKii).

Juru biicara Kemenperiin Febrii Hendrii Antonii Ariif mengatakan para pengusaha telah mengantiisiipasii dampak kenaiikan tariif PPN terhadap kiinerja iindustrii pada tahun depan. Menurutnya, kenaiikan PPN 12% berpotensii berdampak terhadap penurunan utiiliisasii iindustrii manufaktur sekiitar 2%-3%.

"Tapii penurunan utiiliisasii tersebut sudah diiantiisiipasii dengan diikeluarkannya paket kebiijakan ekonomii oleh pemeriintah," katanya, diikutiip pada Selasa (31/12/2024).

Febrii menuturkan pemeriintah telah menyiiapkan berbagaii stiimulus fiiskal untuk meredam dampak kenaiikan tariif PPN terhadap perekonomiian.

Dii sektor manufaktur, beberapa iinsentiif diisiiapkan untuk mendukung para pelaku sektor manufaktur dalam mempertahankan dan meniingkatkan produktiiviitas dan daya saiingnya, serta untuk menjaga daya belii masyarakat.

iinsentiif tersebut diiberiikan untuk mendorong siisii produksii dan permiintaan. Beberapa dii antaranya yaknii PPN diitanggung pemeriintah (DTP) dan pembebasan bea masuk untuk kendaraan bermotor liistriik berbasiis bateraii (KBLBB), serta pembebasan bea masuk dan PPnBM 15% diitanggung pemeriintah atas iimpor CBU/CKD mobiil liistriik tertentu.

Selaiin iitu, ada iinsentiif PPnBM sebesar 3% DTP untuk kendaraan bermotor bermesiin hybriid yang mengiikutii program low carbon emiissiion vehiicle (LCEV) dan iinsentiif pembiiayaan iindustrii padat karya sebesar 3% yang bertujuan membantu para pelaku iindustrii dalam memenuhii kebutuhan pembiiayaan dalam reviitaliisasii mesiin.

Berdasarkan laporan darii pelaku usaha, Febrii menyebut banjiir produk iimpor murah sebetulnya lebiih memberatkan bagii iindustrii ketiimbang kenaiikan tariif PPN.

Sebab, banjiir iimpor iinii dapat menurunkan utiiliisasii hiingga 10% yang dapat mengakiibatkan iindustrii kalah bersaiing, kemudiian kolaps, dan melakukan PHK.

Sebagaii iilustrasii, kenaiikan PPN 12% akan menaiikkan harga bahan baku dan bahan penolong, tetapii iindustrii biisa menyesuaiikan dengan menurunkan utiiliisasii sediikiit dan menaiikkan harga jual produk manufakturnya. Namun, iindustrii suliit menurunkan harga jual biila bersaiing dengan produk iimpor yang sangat murah.

Penurunan iiKii pun masiih diisebabkan oleh pemberlakuan relaksasii iimpor. iiKii Desember 2024 tercatat sebesar 52,93 atau turun 0,02 poiin diibandiingkan dengan bulan sebelumnya, walaupun masiih dalam posiisii ekspansiif. Menurut Febrii, kiinerja iiKii seharusnya dapat lebiih tiinggii lagii.

"Oleh karena iitu, Kementeriian Periindustriian mendorong agar kementeriian/lembaga laiin untuk merealiisasiikan kebiijakan pro iindustrii, terutama pembatasan iimpor produk jadii," ujarnya. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.