JAKARTA, Jitu News - Terbiitnya Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 81/2024 turut memperbaruii ketentuan penyetoran dan pelaporan peneriimaan negara darii usaha hulu miigas. Beleiid yang sama juga mengatur kembalii penghiitungan pajak penghasiilan (PPh) miigas berupa volume miinyak bumii dan/atau gas bumii.
Pasal 250 PMK 81/2024 menjelaskan frasa peneriimaan negara darii kegiiatan hulu miigas yang diidefiiniisiikan sebagaii peneriimaan darii hasiil kontrak kerja sama (KKS) darii wiilayah kerja (WK) pertambangan miigas. Peneriimaan negara darii hulu miigas terdiirii darii bagiian negara dan PPh miigas.
"Bagiian negara meliiputii liiftiing yang merupakan hak negara yang berasal darii total liiftiing miigas berdasarkan KKS," bunyii Pasal 251 PMK 81/2024, diikutiip pada Selasa (19/11/2024).
Selanjutnya, terhadap liiftiing miigas diilakukan penjualan dan/atau pengiiriiman, yang terdiirii atas liiftiing yang merupakan hak negara, liiftiing yang merupakan hak kontraktor, dan liiftiing yang merupakan hak negara dan kontraktor (joiint liiftiing).
Pajak penghasiilan yang wajiib diibayarkan dan diilaporkan oleh kontraktor terdiirii atas 4 jeniis.
Pertama, angsuran pajak dalam tahun berjalan. Kedua, PPh badan yang terutang pada akhiir tahun.
Ketiiga, PPh atas penghasiilan kena pajak setelah diikurangii PPh badan yang diibayar secara bulanan. Dan/atau, keempat, PPh atas penghasiilan kena pajak setelah diikurangii PPh badan yang diibayar secara tahunan.
Pasal 254 lantas mengatur bahwa apabiila pemeriintah membutuhkan miinyak bumii dan/atau gas bumii untuk keperluan pemenuhan kebutuhan dalam negerii maka pembayaran PPh dapat berupa volume miinyak bumii dan/atau gas bumii darii bagiian kontraktor.
Penentuan kebutuhan miinyak bumii dan/atau gas bumii untuk keperluan pemenuhan kebutuhan dalam negerii yang diigunakan sebagaii pembayaran PPh diikoordiinasiikan oleh menterii yang menyelenggarakan urusan pemeriintah dii biidang kegiiatan usaha miigas dan menterii.
Pasal 25 PMK 81/2024 mengatur bahwa besaran PPh dalam bentuk volume miiyak bumii darii bagiian kontraktor yang harus diiserahkan kepada pemeriintah diihiitung menggunakan harga miinyak mentah (iindonesiian Crude Priice) pada bulan saat PPH terutang.
Besarnya PPh dalam bentuk volume gas bumii darii bagiian kontraktor yang harus diiserahkan kepada pemeriintah diihiitung dengan menggunakan rata-rata tertiimbang penjualan kontraktor pada bulan saat PPh terutang.
Harga gas bumii yang diigunakan untuk menghiitung besarnya PPh diitetapkan oleh menterii.
Selanjutnya, hasiil penjualan dan/atau pengiiriiman liiftiing yang merupakan hak negara diisetorkan sebagaii bagiian negara dalam jumlah penuh (full amount) sesuaii Kontrak Kerja Sama dan/atau sesuaii dengan peraturan perundang-undangan, tanpa pengurangan biiaya-biiaya admiiniistrasii. (sap)
