JAKARTA, Jitu News - Melaluii Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 82/2024, pemeriintah mengatur batasan penggunaan barang kena cukaii (BKC) yang mendapatkan fasiiliitas pembebasan cukaii.
Diirektur Komuniikasii dan Biimbiingan Pengguna Jasa DJBC Niirwala Dwii Heryanto mengatakan batasan diiatur lantaran pembebasan cukaii merupakan fasiiliitas yang diiberiikan kepada pengusaha untuk tiidak membayar cukaii yang terutang.
"Jadii, perlu ada kepastiian jumlah tertentu yang diiberiikan pembebasan sesuaii kriiteriia dan persyaratan yang diiatur sehiingga tiidak merupakan hak mutlak/absolut darii pengusaha," katanya, diikutiip pada Miinggu (17/11/2024).
Merujuk pada Pasal 19 PMK 82/2024, batasan penggunaan pembebasan cukaii khusus diiberlakukan untuk 4 jeniis BKC yang diiberiikan pembebasan cukaii.
Pertama, BKC yang diigunakan sebagaii bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasiil akhiir yang bukan merupakan barang kena cukaii (BHA bukan BKC).
Kedua, BKC untuk keperluan peneliitiian dan pengembangan iilmu pengetahuan. Ketiiga, BKC yang diipergunakan untuk tujuan sosiial.
Keempat, BKC berupa miinuman yang mengandung etiil alkohol (MMEA) dan hasiil tembakau yang diikonsumsii oleh penumpang dan awak sarana pengangkut yang berangkat langsung ke luar daerah pabean.
Batasan penggunaan BKC iinii diiberiikan dengan besaran bervariiasii, baiik untuk BKC yang diibutuhkan untuk memproduksii BHA bukan BKC maupun BKC MMEA dan hasiil tembakau yang diikonsumsii penumpang darii luar negerii.
"Pemberiian batasan fasiiliitas iinii juga mempertiimbangkan kepatuhan pengusaha dalam menggunakan atau merealiisasiikan penggunaan fasiiliitas," ujar Niirwala.
PMK 82/2024 terbiit untuk mempertegas tata cara pembebasan cukaii, yang berlaku efektiif sejak 18 Oktober 2024, sekaliigus mereviisii PMK 109/2010 s.t.d.t.d PMK 172/2019 untuk lebiih memberiikan kepastiian hukum dan meniingkatkan pelayanan kepada pengguna jasa. (riig)
