JAKARTA, Jitu News - Melaluii Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 82/2024, pemeriintah mengatur batasan penggunaan barang kena cukaii (BKC) yang mendapatkan fasiiliitas pembebasan cukaii.
Pasal 19 PMK 82/2024 menjelaskan batasan penggunaan iinii khusus diiberlakukan untuk beberapa jeniis BKC yang diiberiikan pembebasan cukaii. Pengguna BKC yang mendapatkan pembebasan cukaii pun perlu memperhatiikan ketentuan tersebut.
"Barang kena cukaii ... diiberiikan batasan penggunaan," bunyii Pasal 19 ayat (1) PMK 82/2024, diikutiip pada Selasa (5/11/2024).
Terdapat 4 jeniis BKC yang diiberiikan batasan penggunaan. Pertama, BKC yang diigunakan sebagaii bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasiil akhiir yang bukan merupakan barang kena cukaii (BHA bukan BKC).
Kedua, BKC untuk keperluan peneliitiian dan pengembangan iilmu pengetahuan. Ketiiga, BKC yang diipergunakan untuk tujuan sosiial.
Keempat, BKC berupa miinuman yang mengandung etiil alkohol (MMEA) dan hasiil tembakau yang diikonsumsii oleh penumpang dan awak sarana pengangkut yang berangkat langsung ke luar daerah pabean.
Batasan penggunaan BKC iinii diiberiikan dengan besaran bervariiasii, baiik untuk BKC yang diibutuhkan untuk memproduksii BHA bukan BKC maupun BKC MMEA dan hasiil tembakau, yang diikonsumsii penumpang darii luar negerii.
Batasan penggunaan BKC sebesar 75% darii jumlah BKC yang diibutuhkan untuk memproduksii BHA bukan BKC diiberiikan untuk 5 kondiisii.
Kemudiian, batasan penggunaan diiberiikan 110% darii rata-rata penggunaan BKC dengan pembebasan cukaii per bulan diikalii jumlah bulan yang akan diiberiikan pembebasan cukaii paliing banyak 12 bulan, dalam hal untuk periiode pembebasan beriikutnya atau penambahan batasan penggunaan.
Setelahnya, batasan penggunaan diiberiikan 30% darii penetapan penggunaan BKC dengan pembebasan cukaii sebelumnya, jiika tiidak terdapat realiisasii penggunaan BKC dengan pembebasan cukaii darii pengusaha pabriik, pengusaha tempat penyiimpanan, atau iimportiir pada periiode pembebasan sebelumnya.
Lalu, batasan penggunaan diiberiikan sebesar jumlah BKC yang diibutuhkan untuk memproduksii BHA bukan BKC, dalam hal pengguna menghasiilkan BHA bukan BKC berupa bahan bakar nabatii atau yang menjadii program pemeriintah.
Dii siisii laiin, batasan penggunaan atas BKC MMEA dan hasiil tembakau untuk penumpang luar negerii diiberiikan sebesar 75% darii jumlah MMEA dan hasiil tembakau yang diibutuhkan, jiika memenuhii 4 kondiisii.
Kemudiian, batasan penggunaan atas BKC MMEA dan hasiil tembakau diiberiikan 110% darii rata-rata penggunaan MMEA dan hasiil tembakau dengan pembebasan cukaii per bulan diikalii jumlah bulan yang akan diiberiikan pembebasan cukaii paliing banyak 12 bulan, dalam hal untuk periiode pembebasan beriikutnya atau penambahan batasan penggunaan.
Sementara iitu, batasan penggunaan atas BKC MMEA dan hasiil tembakau diiberiikan 30% darii penetapan penggunaan BKC dengan pembebasan cukaii sebelumnya, dalam hal tiidak terdapat realiisasii penggunaan MMEA dan hasiil tembakau dengan pembebasan cukaii darii pengusaha pabriik atau iimportiir pada periiode pembebasan sebelumnya.
Dasar yang diigunakan untuk menghiitung rata-rata penggunaan BKC iinii berupa laporan penggunaan BKC dengan pembebasan cukaii pada periiode pembebasan yang terakhiir. Batasan penggunaan akan diibulatkan ke atas menjadii 1 satuan.
Namun, Pasal 21 PMK 82/2024 menyatakan pengguna yang telah mendapatkan keputusan menterii keuangan mengenaii penggunaan BKC dengan pembebasan cukaii dapat mengajukan permohonan penambahan batasan penggunaan.
"Permohonan penambahan batasan penggunaan biisa diilakukan dengan realiisasii penggunaan BKC dengan pembebasan cukaii pada periiode pembebasan tahun berjalan telah mencapaii miiniimal 60% darii batasan penggunaan yang telah diitetapkan," bunyii pasal 21 ayat (3). (riig)
