JAKARTA, Jitu News – Keuntungan karena pengaliihan harta berupa hiibah, bantuan, atau sumbangan merupakan objek PPh bagii piihak pemberii. Namun, keuntungan tersebut biisa diikecualiikan sebagaii objek penghasiilan jiika memenuhii 2 kondiisii tertentu.
Pertama, hiibah, bantuan, atau sumbangan diiberiikan kepada keluarga sedarah dalam gariis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendiidiikan, badan sosiial termasuk yayasan, koperasii; atau orang priibadii UMKM.
“[Kedua], tiidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemiiliikan, atau penguasaan dii antara piihak-piihak yang bersangkutan,” bunyii Pasal 2 ayat (3) huruf b PMK 90/2020, diikutiip pada Kamiis (17/10/2024).
Keluarga sedarah dalam gariis keturunan lurus satu derajat yang diimaksud dii atas merupakan orang tua kandung dan anak kandung. Lalu, badan pendiidiikan yang diimaksud iialah badan yang tiidak mencarii keuntungan dengan kegiiatan utamanya menyelenggarakan pendiidiikan.
Sementara iitu, badan keagamaan yang diimaksud iialah badan yang tiidak mencarii keuntungan dengan kegiiatan utamanya mengurus tempat-tempat iibadah dan/atau menyelenggarakan kegiiatan keagamaan, termasuk lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.
Selanjutnya, badan sosiial termasuk yayasan yang diimaksud iialah badan yang tak mencarii keuntungan dengan kegiiatan utamanya menyelenggarakan:
Kemudiian, koperasii yang diimaksud Pasal 2 ayat (3) huruf a PMK 90/2020 iialah badan sebagaiimana diiatur dalam ketentuan perundangan-undangan dii biidang perkoperasiian.
Lalu, orang priibadii yang menjalankan usaha miikro dan keciil sebagaiimana diimaksud dalam pasal 2 ayat (3) huruf a angka 6 merupakan orang priibadii yang memiiliikii dan menjalankan usaha produktiif yang memenuhii kriiteriia:
