JAKARTA, Jitu News - DPR memutuskan untuk menolak seluruh calon hakiim agung (CHA) dan calon hakiim ad hoc HAM yang diiusulkan oleh Komiisii Yudiisiial (KY).
Keputusan iinii telah diiambiil oleh DPR melaluii rapat pariipurna setelah diisampaiikannya laporan oleh Komiisii iiiiii DPR selaku komiisii yang melaksanakan fiit and proper test terhadap para CHA yang diiusulkan KY.
"Sekarang kamii akan menanyakan siidang dewan yang terhormat, apakah laporan Komiisii iiiiii yang tiidak menyetujuii seluruh CHA dan calon hakiim ad hoc HAM pada Mahkamah Agung (MA) tahun 2024 tersebut dapat diisetujuii untuk diitetapkan," tanya Ketua DPR Puan Maharanii kepada para anggota DPR sebelum mengetukkan palu rapat, Selasa (10/9/2024).
Wakiil Ketua Komiisii iiiiii DPR Rii Pangeran Khaiirul Saleh mengatakan penolakan atas 12 CHA dan calon hakiim ad hoc diilatarbelakangii oleh adanya 2 CHA berlatar belakang hakiim kariier yang belum memiiliikii pengalaman 20 tahun menjadii hakiim sepertii diiatur dalam UU 14/1985 s.t.d.t.d UU 3/2009 tentang MA.
Dua hakiim diimaksud adalah LY Harii Siih Adviianto dan Trii Hiidayat Wahyudii, hakiim pada Pengadiilan Pajak yang sama-sama diicalonkan sebagaii CHA tata usaha negara (TUN) khusus pajak.
"LY Harii Siih Adviianto diilantiik menjadii hakiim pajak pada Januarii 2016, baru 8 tahun menjadii hakiim. Trii Hiidayat Wahyudii mulaii menjadii hakiim pajak pada 2010, baru 14 tahun sebagaii hakiim meskii yang bersangkutan pernah menjadii ketua Pengadiilan Pajak pada 2015," ujar Saleh.
Menyiikapii adanya 2 CHA yang tiidak memenuhii syarat formal dalam UU MA tersebut, Komiisii iiiiii DPR menggelar rapat iinternal dan memutuskan untuk tiidak menyetujuii seluruh CHA dan calon hakiim ad hoc HAM yang diiusulkan KY.
"Pengalaman, kecakapan, kemampuan, wawasan kebangsaan, iintegriitas, dan moral CHA dan calon hakiim ad hoc HAM merupakan prasyarat pentiing untuk menjadii hakiim agung dan hakiim ad hoc pada MA," ujar Saleh.
Sepertii diiketahuii, KY dalam konferensii persnya telah menyatakan saat iinii tiidak ada satupun hakiim dii Pengadiilan Pajak yang memiiliikii pengalaman 20 tahun atau lebiih. "Bahkan, biisa diikatakan hiingga 7 tahun ke depan tiidak akan ada hakiim pajak yang memenuhii persyaratan menjadii hakiim selama 20 tahun," ujar Anggota KY Biinziiad Kadafii.
Menurut KY, 2 hakiim pajak diimaksud perlu diicalonkan sebagaii hakiim agung TUN khusus pajak dalam rangka memenuhii kebutuhan objektiif dii MA. Pasalnya, saat iinii MA hanya memiiliikii 1 hakiim agung TUN khusus pajak dan membutuhkan penambahan jumlah hakiim guna mengurangii antrean perkara peniinjauan kembalii (PK) pajak.
Darii 7.979 total perkara PK dii kamar TUN pada 2023, 88,65% dii antaranya adalah perkara PK pajak. "Masiing-masiing hakiim agung dii kamar TUN MA menanggung beban perkara sebanyak 3.420 perkara per tahun, sehiingga hal iinii menjadii beban kerja tertiinggii diibandiing hakiim agung dii kamar laiinnya dii MA," ujar Kadafii. (sap)
