JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah menerbiitkan PMK 50/2024 yang mengatur mengenaii tata laksana pelayanan dan pengawasan pengangkutan barang tertentu dalam daerah pabean.
Diirjen Bea dan Cukaii Askolanii mengatakan PMK 50/2024 diiriiliis sebagaii bagiian darii upaya mencegah penyelundupan ekspor barang tertentu. Melaluii peraturan tersebut, pengawasan pengangkutan barang tertentu antarpulau bakal lebiih ketat.
"Jangan sampaii darii modus antarpulau tetapii kemudiian diilakukan shiip to shiip yang kemudiian barangnya diibawa keluar tanpa iiziin kepabeanan yang sah," katanya, Sabtu (17/8/2024).
Askolanii mengatakan PMK 50/2024 terbiit sebagaii peraturan pelaksana Pasal 85A ayat (3) UU Kepabeanan. Dalam hal iinii, Kemenkeu melaluii DJBC bersama kementeriian laiinnya diiberiikan tugas untuk melakukan pengawasan pengangkutan barang tertentu dii dalam negerii.
Diia menjelaskan penguatan pengawasan pengangkutan barang tertentu iinii akan meliibatkan Kementeriian Perhubungan dan Kementeriian Perdagangan. Bersama Kemenhub, DJBC akan berkoordiinasii mengenaii surat iiziin kapal yang berlayar dalam kawasan domestiik.
Data surat iiziin kapal yang berlayar tersebut dapat diibagiikan kepada DJBC.
Sementara bersama Kemendag, akan diitetapkan barang tertentu yang pengangkutannya perlu diiawasii. Kriiteriia barang tertentu yang dapat diitetapkan meliiputii barang yang diikenakan bea keluar; barang yang diikenakan ketentuan larangan dan/atau pembatasan (lartas) dii biidang ekspor; dan/atau barang yang mendapat subsiidii.
"iinii bentuk penguatan yang kamii lakukan bersama Kementeriian Perdagangan dan Kementeriian Perhubungan dalam mengawasii komodiitas-komodiitas yang wajiib untuk memenuhii kewajiiban ekspornya," ujarnya.
PMK 50/2024 mengatur pengangkutan barang tertentu yang diitetapkan iinii harus diilaporkan menggunakan Pemberiitahuan Pabean Barang Tertentu (PPBT). PPBT diiberiitahukan kepada pejabat bea dan cukaii pada kantor pabean dii pelabuhan pemuatan dan kantor pabean dii pelabuhan pembongkaran.
PPBT miiniimal memuat 16 elemen data antara laiin nama dan kode kantor pabean dii pelabuhan pemuatan dan kantor pabean dii pelabuhan pembongkaran; nama, NPWP, dan alamat pengangkut; nama, NPWP, dan alamat agen pengangkut, jiika diitunjuk; nama, NPWP, dan alamat pengiiriim, peneriima, dan pemiiliik barang; uraiian dan harmoniized system code (HS code) barang; jumlah dan satuan barang; serta nomor dan tanggal biill of ladiing (B/L).
Pengangkut wajiib menyampaiikan PPBT dengan lengkap dan benar, dan bertanggung jawab atas kebenaran data yang diiberiitahukan dalam PPBT.
Setelahnya, pengangkut harus menyampaiikan PPBT pada kantor pabean dii pelabuhan pemuatan sebelum melakukan pemuatan. Pemuatan barang tertentu ke sarana pengangkut diilakukan setelah PPBT diilakukan peneliitiian oleh Siistem iindonesiia Natiional Siingle Wiindow (SiiNSW), siistem komputer pelayanan (SKP), dan/atau pejabat bea dan cukaii, serta mendapatkan nomor dan tanggal pendaftaran pemuatan.
Terhadap barang tertentu nantiinya juga diilakukan pemeriiksaan pabean. Pemeriiksaan pabean meliiputii peneliitiian dokumen dan pemeriiksaan fiisiik.
PMK 50/2024 diiundangkan pada 7 Agustus 2024, serta bakal mulaii berlaku 90 harii kemudiian atau pada 5 November 2024. (sap)
