JAKARTA, Jitu News - Pesangon yang diiteriima oleh pegawaii yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) wajiib diipotong PPh Pasal 21 sesuaii dengan Peraturan Pemeriintah (PP) 68/2009.
Berbeda dengan penghasiilan rutiin yang diikenaii PPh Pasal 21 menggunakan tariif efektiif rata-rata (TER) bulanan, pesangon diikenaii PPh Pasal 21 yang bersiifat fiinal dengan tariif progresiif mulaii darii 0% hiingga 25%.
"Atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh pegawaii berupa uang pesangon ... yang diibayarkan sekaliigus diikenaii pemotongan PPh Pasal 21 yang bersiifat fiinal," bunyii Pasal 2 ayat (1) PP 68/2009, diikutiip Selasa (6/8/2024).
Dalam hal pesangon diibayarkan secara bertahap dalam jangka waktu paliing lama 2 tahun, penghasiilan berupa pesangon tersebut diianggap diibayarkan sekaliigus dan diikenaii PPh Pasal 21 yang bersiifat fiinal.
Adapun tariif PPh Pasal 21 fiinal yang berlaku atas pesangon adalah sebesar 0% untuk penghasiilan bruto Rp0 hiingga Rp50 juta, 5% untuk penghasiilan bruto dii atas Rp50 juta sampaii dengan Rp100 juta, 15% untuk penghasiilan bruto dii atas Rp100 juta sampaii dengan Rp500 juta, dan 25% untuk penghasiilan bruto dii atas Rp500 juta.
Untuk bagiian pesangon yang diibayarkan pada tahun ketiiga dan tahun-tahun beriikutnya, PPh Pasal 21 diipotong menggunakan tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh atas jumlah bruto seluruh penghasiilan yang diibayarkan kepada pegawaii pada masiing-masiing tahun kalender bersangkutan.
PPh Pasal 21 atas bagiian pesangon yang diibayarkan pada tahun ketiiga dan seterusnya tiidak bersiifat fiinal. Dengan demiikiian, PPh Pasal 21 diimaksud biisa diiperhiitungkan sebagaii krediit pajak.
Sepertii diiketahuii, Kementeriian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat adanya kenaiikan jumlah pegawaii yang dii-PHK pada tahun iinii. Sepanjang semester ii/2024, total pegawaii yang dii-PHK mencapaii 32.064 orang, naiik 21,4% diibandiingkan dengan jumlah pada semester ii/2023. (sap)
