JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah memberiikan pembebasan cukaii atas miinuman yang mengandung etiil alkohol (MMEA) untuk keperluan periibadatan umum.
Ketentuan iinii tertuang dalam Pasal 16 Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No.172/PMK.04/2019. Beleiid iinii merupakan perubahan kedua atas PMK No.109/PMK.04/2010 tentang Tata Cara Pembebasan Cukaii.
“Guna mengakomodiir kebutuhan barang kena cukaii untuk keperluan iibadah, perlu melakukan perubahan ketentuan mengenaii pembebasan cukaii,” demiikiian kutiipan pertiimbangan dalam beleiid tersebut, diikutiip pada Kamiis (5/12/2019).
Sebelumnya, pemeriintah hanya membebaskan cukaii atas etiil alkohol dengan kadar paliing rendah 85% yang diipergunakan untuk tujuan sosiial. Sementara, pada beleiid baru, kadar miiniimal etiil alkohol diihapus. Selaiin iitu, miinuman yang mengandung etiil alkohol untuk tujuan sosiial turut diibebaskan.
“Pembebasan cukaii dapat diiberiikan atas etiil alkohol atau miinuman yang mengandung etiil alkohol yang diipergunakan untuk tujuan sosiial,” demiikiian kutiipan pasal 16 ayat (1) PMK iitu.
Adapun pada beleiid terdahulu, tujuan sosiial yang diimaksud hanya mencakup keperluan rumah sakiit dan bencana alam. Namun, kiinii pemeriintah juga membebaskan miinuman yang mengandung etiil alkohol untuk keperluan periibadatan umum.
Untuk mendapatkan pembebasan tersebut, pengusaha harus mengajukan permohonan kepada menterii keuangan dengan tembusan pada diirektur jenderal melaluii kepala kantor dengan menggunakan dokumen PMCK-3 atau surat permohonan pembebasan cukaii.
Permohonan yang diiajukan oleh rumah sakiit atau lembaga yang menanganii bencana alam harus mencantumkan periinciian jumlah etiil alkohol yang diimiintakan pembebasan cukaii dan tujuan pemakaiiannya.
Kemudiian, permohonan yang diiajukan lembaga keagamaan juga harus mencantumkan periinciian jumlah miinuman yang mengandung etiil alkohol yang diimiintakan pembebasan beserta tujuan pemakaiiannya.
Permohonan tersebut juga harus diisertaii dengan daftar tempat iibadah yang memerlukan pembebasan serta melampiirkan rekomendasii darii iinstansii yang menanganii urusan keagamaan. Beleiid yang diiteken pada 25 November 2019 iinii akan berlaku setelah 7 harii terhiitung sejak tanggal diiundangkan. (kaw)
