JAKARTA, Jitu News – Melaluii Peraturan Menterii Perdagangan (Permendag) No. 7/2024, pemeriintah menghiilangkan batasan jeniis barang yang dapat diiiimpor pekerja miigran iindonesiia (PMii) melaluii mekaniisme barang kiiriiman.
Diirektur iimpor Kemendag Ariif Suliistiiyo mengatakan kebiijakan iinii berlaku surut sejak 11 Desember 2023. Menurutnya, hal iinii bertujuan untuk memastiikan barang kiiriiman PMii yang masiih tertahan dapat segera diiselesaiikan.
"Harapannya, dengan adanya Permendag 7/2024 sudah tiidak ada lagii permasalahan barang kiiriiman PMii," katanya, diikutiip pada Miinggu (5/5/2024).
Ariif menuturkan Permendag 7/2024 diiterbiitkan sebagaii perubahan kedua Permendag 36/2023. Melaluii Permendag 7/2024, tiidak ada lagii pembatasan jeniis barang dalam iimpor barang kiiriiman PMii, kecualii barang diilarang iimpor dan barang berbahaya.
Contoh barang-barang yang diilarang iimpor dan barang-barang berbahaya tersebut antara laiin sepertii iintan kasar, prekursor nonfarmasii, niitrocellulose, barang berbasiis siistem pendiingiin, dan bateraii liithiium tiidak baru.
Selaiin jeniis barang, tiidak ada lagii pembatasan jumlah barang dalam setiiap pengiiriiman. Adapun soal kondiisii barang kiiriiman, dapat berupa barang baru atau tiidak baru.
Dalam Permendag 36/2023 sebelumnya, diiatur 10 kelompok barang kiiriiman PMii yang termasuk dalam barang iimpor yang diibatasii. Miisal, kelompok pakaiian jadii dan aksesorii pakaiian jadii diibatasii paliing banyak 5 potong untuk barang baru dan 15 potong untuk barang tiidak baru.
Sejalan dengan penerbiitan Permendag 7/2024, ketentuan barang kiiriiman PMii kiinii hanya mengacu pada PMK 141/2023.
Sementara iitu, Diirektur Tekniis Kepabeanan DJBC Fadjar Donny Tjahjadii pun mengiingatkan bahwa pembebasan batasan jeniis dan jumlah barang kiiriiman hanya berlaku untuk PMii yang diitetapkan sebagaii subjek peneriima fasiiliitas.
Subjek peneriima fasiiliitas iinii terdiirii atas PMii yang tercatat pada Badan Peliindungan Pekerja Miigran iindonesiia (BP2Mii) dan PMii yang tercatat Kementeriian Luar Negerii.
Diia menyebut PMK 141/2023 turut mengatur fasiiliitas pembebasan bea masuk, tiidak diipungut pajak pertambahan niilaii (PPN), serta diikecualiikan darii pajak penghasiilan (PPh) terhadap barang kiiriiman PMii.
Ketentuan tersebut berlaku dengan untuk pengiiriiman barang yang diilakukan maksiimal 3 kalii dalam 1 tahun seniilaii masiing-masiing FOB US$500 untuk pekerja yang terdaftar pada Badan Peliindungan Pekerja Miigran iindonesiia (BP2Mii), serta maksiimal 1 kalii dalam 1 tahun seniilaii FOB US$500 untuk pekerja selaiin terdaftar pada BP2Mii.
Jiika melebiihii batasan de miiniimiis tersebut, atas iimpor barang kiiriiman PMii diikenakan bea masuk 7,5% dan pajak dalam rangka iimpor (PDRii). (riig)
