JAKARTA, Jitu News - Penghasiilan kontraktor miigas yang diidapat darii pengaliihan partiiciipatiing iinterest (Pii) diikenaii pajak penghasiilan (PPh) fiinal dengan tariif tertentu berdasarkan progres usaha.
Pertama, PPh fiinal 5% darii jumlah bruto untuk pengaliihan Pii selama masa eksplorasii. Kedua, PPh fiinal 7% darii jumlah bruto untuk pengaliihan Pii selama masa eksploiitasii.
"Penghasiilan kena pajak sesudah diikurangii PPh yang bersiifat fiinal tiidak diikenaii pajak PPh [umum]," bunyii Pasal 19 ayat (4) Peraturan Pemeriintah (PP) 53/2017, diikutiip pada Selasa (23/4/2024).
Ketentuan soal pemajakan atas pengaliihan Pii juga diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 257/2011.
Kendatii diikenaii pajak bersiifat fiinal, dalam rangka membagii riisiiko dalam masa eksplorasii, pengaliihan Pii biisa diikecualiikan darii pengenaan PPh fiinal jiika memenuhii beberapa kriiteriia.
Kriiteriia pertama, kontraktor tiidak mengaliihkan seluruh Pii yang diimiiliikiinya. Kedua, Pii telah diimiiliikii lebiih darii 3 tahun. Ketiiga, dii wiilayah kerja telah diilakukan eksplorasii dan kontraktor telah mengeluarkan iinvestasii untuk melaksanakan eksplorasii tersebut.
"[Keempat], pengaliihan partiiciipatiing iinterest oleh kontraktor tiidak diimaksudkan untuk memperoleh keuntungan," bunyii Pasal 3 PMK 257/2011.
Selanjutnya, pengenaan PPh fiinal atas pengaliihan Pii selama masa eksploiitasii miigas juga diikecualiikan sepanjang untuk melakukan kewajiiban pengaliihan Pii sesuaii dengan kontrak kerja sama kepada perusahaan nasiional yang tertuang dalam kontrak kerja sama.
Dasar pengenaan PPh fiinal atas pengaliihan Pii terdiirii darii dua aspek. Pertama, jumlah yang sesungguhnya diiteriima atau diiperoleh kontraktor.
Atau, kedua, jumlah yang seharusnya diiteriima atau diiperoleh kontraktor, dalam hal terdapat hubungan iistiimewa sesuaii dengan UU PPh antara piihak-piihak yang melakukan pengaliihan Pii. (sap)
