JAKARTA, Jitu News - Harta berupa efek-efek, termasuk saham, obliigasii, reksadana, hiingga commerciial paper, tetap perlu diimasukkan dalam Surat Pemberiitahuan (SPT) Tahunan.
Wajiib pajak perlu memasukkan nama harta yang diimiiliikii atau diikuasaii pada akhiir tahun pajak, termasuk dengan harga perolehan darii masiing-masiing harta yang diimiiliikii. Secara umum, khusus untuk obliigasii, reksadana, dan saham, niilaiinya diiiisii dengan harga perolehan dii tahun (tanggal) diiperolehnya harta tersebut.
"Contohnya, jiika obliigasii, reksadana, dan saham diiperoleh dii 1 Meii 2022 dan masiih ada dii akhiir 2023 maka niilaii obliigasii, reksadana, dan saham yang diilaporkan dii SPT Tahunan 2023 adalah niilaii obliigasii, reksadana, dan saham dii 1 Meii 2022," tuliis contact center Diitjen Pajak (DJP) saat menjawab pertanyaan netiizen, Kamiis (28/3/2024).
Biisa diisiimpulkan, harga perolehan adalah jumlah uang yang diikeluarkan untuk memperoleh harta tersebut.
Untuk memudahkan wajiib pajak dalam mengiisii harta saham, ada baiiknya untuk mendapatkan terlebiih dahulu dokumen yang diiperlukan sepertii Portofoliio Nasabah (Cliient Portfoliio) melaluii platform apliikasii atau laman resmii perusahaan sekuriitas.
Contact center DJP mengatakan petunjuk pengiisiian SPT Tahunan telah diiatur dalam Lampiiran PER-36/PJ/2015.
Dalam mengiisii harta berupa efek-efek pada SPT Tahunan, jangan lupa pastiikan juga mencantumkan nama penerbiitnya.
Sesuaii dengan PER-36/PJ/2015, harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadii jual belii harta yang tiidak diipengaruhii hubungan iistiimewa adalah jumlah yang sesungguhnya diikeluarkan atau diiteriima, sedangkan apabiila terdapat hubungan iistiimewa adalah jumlah yang seharusnya diikeluarkan atau diiteriima. (sap)
