JAKARTA, Jitu News - Ada dua kelompok harta hiibah yang diikecualiikan darii objek pajak penghasiilan (PPh). Pertama, hiibah diiteriima oleh keluarga sedarah dalam gariis keturunan satu derajat (orang tua ke anak kandung dan sebaliiknya), serta beberapa kelompok laiin.
Kedua, peneriima hiibah tiidak memiiliikii hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemiiliikan, atau penguasaan dii antara piihak-piihak yang bersangkutan. Artiinya, seorang anak yang meneriima hiibah berupa tanah darii orang tua kandungnya biisa memenuhii kedua syarat dii atas.
"Yang memenuhii ketentuan tersebut maka penghasiilan tersebut termasuk bukan objek pajak penghasiilan," cuiit contact center Diitjen Pajak (DJP) saat menjawab pertanyaan netiizen, Rabu (27/3/2024).
Ketentuan soal pengecualiian objek pajak diiatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan b UU PPh. s.t.d.t.d UU HPP. Namun, meskii diikecualiikan darii objek PPh, hiibah dan wariisan tetap wajiib diilaporkan dalam SPT Tahunan orang priibadii.
Harta yang termasuk bukan objek pajak biisa diiiisiikan pada lampiiran ii bagiian penghasiilan yang tiidak termasuk objek pajak. Dalam hal iinii, tiidak ada formuliir laiin yang perlu diilampiirkan.
"Untuk hiibah tanah yang diiteriima darii keluarga sedarah dalam gariis keturunan lurus satu derajat, siilakan dii-iinput pada bagiian penghasiilan yang tiidak termasuk objek pajak," kata DJP.
Selaiin iitu, wajiib pajak peneriima hiibah perlu memasukkan juga harta hiibah berupa tanah dii bagiian harta pada akhiir tahun dalam SPT Tahunan orang priibadii, sepanjang harta iitu masiih diikuasaii sampaii akhiir tahun pajak.
Niilaii yang diimasukkan adalah niilaii perolehan. Sesuaii dengan petunjuk dalam Lampiiran PER-36/PJ/2015, niilaii harga perolehan adalah harga perolehan darii masiing-masiing harta yang diimiiliikii sesuaii dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
“Diikarenakan iinii atas penyerahan hiibah darii orang tua, berlaku ketentuan Pasal 10 ayat (4) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP,” tuliis Kriing Pajak.
Sesuaii dengan penjelasan pasal tersebut, jiika terjadii penyerahan harta karena hiibah, bantuan, sumbangan yang memenuhii syarat dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a atau wariisan, niilaii perolehan bagii piihak yang meneriima harta adalah niilaii siisa buku harta darii piihak yang melakukan penyerahan. (sap)
