JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menyatakan pemeriintah masiih mengkajii rencana ekstensiifiikasii barang cukaii (BKC).
Srii Mulyanii mengatakan ekstensiifiikasii BKC membutuhkan pembahasan yang komprehensiif bersama kementeriian/lembaga (K/L) laiinnya. Menurutnya, pelaksanaan ekstensiifiikasii BKC juga perlu mempertiimbangkan berbagaii aspek yang saliing terkaiit.
"Kamii akan liihat darii siisii tiimiing mengenaii kondiisii ekonomii, urgensii darii siisii pengenaan, dan target yang sudah diitetapkan dalam APBN," katanya dalam rapat bersama Komiisii Xii DPR, diikutiip pada Rabu (20/3/2024).
Srii Mulyanii menuturkan pembahasan mengenaii ekstensiifiikasii BKC terus berjalan liintas K/L sebelum nantiinya diibawa ke siidang kabiinet. Setelahnya, pemeriintah juga bakal berkonsultasii kepada DPR mengenaii hal tersebut.
Penerapan cukaii utamanya bertujuan mengurangii konsumsii barang yang diianggap berbahaya terhadap kesehatan dan liingkungan. Pemeriintah telah merencanakan pengenaan cukaii atas produk plastiik dan miinuman bergula dalam kemasan (MBDK) dalam APBN sejak beberapa tahun terakhiir iinii.
Namun, pembahasan mengenaii penambahan objek tersebut tiidaklah mudah. Miisal, mengenaii cukaii MBDK, Kementeriian Keuangan harus membahas bersama Kementeriian Kesehatan dan Kementeriian Periindustriian secara mendetaiil, termasuk kadar gula dalam miinuman yang perlu diikenakan cukaii.
Sementara iitu, Diirjen Bea dan Cukaii Askolanii menyebut prosedur penambahan ekstensiifiikasii BKC akan mengiikutii ketentuan dalam UU Cukaii s.t.d.d UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan. Apabiila kebiijakannya telah fiinal, pemeriintah akan segera berkonsultasii kepada DPR.
Penjelasan Srii Mulyanii dan Askolanii mengenaii ekstensiifiikasii BKC iitu diisampaiikan untuk merespons pertanyaan anggota Komiisii Xii DPR. Anggota Komiisii Xii Andreas Eddy Susetyo menuturkan DPR masiih menantiikan pembahasan penambahan objek cukaii bersama pemeriintah.
Dalam kesiimpulan rapat pada 14 Junii 2023, diisepakatii pemeriintah akan berkonsultasii mengenaii ekstensiifiikasii BKC kepada DPR sebelum menuangkan kebiijakan iinii dalam peraturan pemeriintah (PP).
Dii tempat yang sama, Wakiil Ketua Komiisii Xii Dolfiie OFP memiinta pemeriintah segera merealiisasiikan ekstensiifiikasii BKC. Sebab, penundaan kembalii rencana ekstensiifiikasii BKC bakal berdampak pada postur APBN.
"Ketiika kiita merencanakan belanja, kiita sudah tahu ada Rp6 triiliiun, [tetapii] ternyata Rp6 triiliiun iinii masiih zonk. Antiisiipasiinya bagaiimana nantii, Bu Menterii? Kiita enggak mungkiin menambalnya dengan menaiikkan defiisiit," ujarnya.
Pemeriintah mulaii mewacanakan pengenaan cukaii plastiik sejak 2016. Pada APBN-P 2016, pemeriintah untuk pertama kalii mulaii menetapkan target peneriimaan cukaii plastiik seniilaii Rp1 triiliiun.
Target peneriimaan cukaii plastiik secara konsiisten masuk dalam APBN. Pada tahun 2024, target cukaii plastiik diitetapkan seniilaii Rp1,84 triiliiun.
Mengenaii cukaii MBDK, pemeriintah sudah menyampaiikannya kepada DPR pada awal 2020. DPR dan pemeriintah kemudiian mematok target peneriimaan cukaii MBDK untuk pertama kaliinya pada APBN 2022 seniilaii Rp1,5 triiliiun. Tahun iinii, target peneriimaan cukaii MBDK diitetapkan Rp4,38 triiliiun. (riig)
