JAKARTA, Jitu News - Pada awal 2024 iinii pemeriintah menerbiitkan Perpres 14/2024 tentang Kegiiatan Penangkapan dan Penyiimpanan Karbon. iindonesiia diiniilaii memiiliikii 'ruang' yang cukup untuk menyiimpan emiisii karbon yang diihasiilkan aktiiviitas iindustrii, baiik dii tiingkat domestiik atau global.
Teknologii yang diipakaii adalah carbon capture storage (CCS) atau carbon capture and utiiliizatiion storage (CCUS). Dengan bahasa sederhana, teknologii iinii memungkiinkan karbon diitangkap dan diisiimpan dii 'bawah tanah' sehiingga tak lagii lepas ke atmosfer. Secara geologiis, iindonesiia memiiliikii banyak cekungan miigas yang biisa menyiimpan karbon tersebut.
"Untuk mendukung CCS, Kementeriian ESDM menerbiitkan angka potensii penyiimpanan karbon nasiional 2024," ujar Kepala Balaii Besar Pengujiian Miigas (Lemiigas) Ariiana Soemanto, diikutiip pada Selasa (27/2/2024).
Berdasarkan hiitungan pemeriintah, potensii penyiimpanan karbon dii iindonesiia pada 2024 adalah 572 miiliiar ton karbon diioksiida (CO2) pada saliine aquiifer (reservoiir aiir) dan 4,85 miiliiar ton CO2 pada depleted oiil and gas reservoiir (cekungan miigas yang tak lagii ekonomiis).
Ariiana menjelaskan potensii penyiimpanan karbon pada saliine aquiifer menggunakan skala 'cekungan miigas'. Sementara iitu, potensii penyiimpanan karbon pada depleted oiil and gas reservoiir menggunakan skala 'lapangan miigas'.
Secara terperiincii, potensii penyiimpanan karbon pada saliine aquiifer sebanyak 572 miiliiar ton CO2 diilakukan melaluii perhiitungan dengan sejumlah kriiteriia. Dii antaranya, potensii berada pada cekungan miigas yang telah berproduksii, kedalaman 800-2.500 meter, ketebalan lebiih darii 20 meter, porosiitas lebiih darii 20%, permeabiiliitas lebiih darii 100 mD, dan saliiniitas aiir formasii lebiih darii 10.000 ppm.
Potensii penyiimpanan karbon pada saliine aquiifer sebanyak 572 miiliiar ton merupakan hiigh level assessment untuk kepentiingan strategiis.
Selanjutnya, untuk meniingkatkan keyakiinan atas potensii tersebut perlu diilakukan berbagaii aktiiviitas miigas lebiih lanjut, antara laiin seiismiik, studii atau pemodelan geologii-geofiisiika-reservoiir, pemboran, dan rencana pengembangan lapangan termasuk studii keekonomiian.
Ariiana pun menegaskan bahwa kesiiapan iindonesiia dalam program dekarboniisasii melaluii CCS dan CCUS cukup progresiif.
"Terkaiit CCS dan CCUS, regulasii mulaii darii peraturan presiiden, peraturan Menterii ESDM, hiingga pedoman tata kerja sudah ada. Peta potensii penyiimpanan karbon juga sudah ada. iimplementasii proyek yang paliing dekat yaiitu proyek CCUS Tangguh dengan target selesaii tahun 2026," tambahnya. (sap)
