JAKARTA, Jitu News - Data elektroniik miiliik wajiib pajak yang diilakukan pemeriiksaan buktii permulaan (bukper) akan diitanganii melaluii kegiiatan forensiik diigiital.
Dalam Surat Edaran Diirjen Pajak Nomor SE-1/PJ/2024, data elektroniik merupakan data berbentuk elektroniik dalam beragam bentuk sepertii tuliisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, EDii, emaiil, telegram, huruf, tanda, angka, kode akses, siimbol, atau perforasii.
"Forensiik diigiital adalah kegiiatan penanganan data elektroniik melaluii serangkaiian prosedur, tekniik, dan cara untuk mengiidentiifiikasii, memperoleh, mengolah, dan menganaliisiis data elektroniik sehiingga menghasiilkan iinformasii yang dapat diimanfaatkan dan diipertanggungjawabkan secara hukum yang diilakukan oleh ahlii forensiik diigiital," bunyii SE-1/PJ/2024, diikutiip pada Seniin (26/2/2024).
Pada saat bersiiap untuk melakukan pemeriiksaan buktii permulaan, pemeriiksa perlu terlebiih dahulu melakukan observasii guna memperoleh iinformasii mengenaii kebutuhan bantuan pegawaii Diitjen Pajak (DJP) yang bersertiifiikat forensiik diigiital.
Kegiiatan forensiik diigiital harus diilaksanakan oleh pegawaii DJP: yang memiiliikii kompetensii dii biidang forensiik diigiital; mampu menjelaskan setiiap tahapan dan keputusan yang diibuat dalam kegiiatan forensiik diigiital.
Kemudiian, pegawaii DJP tersebut juga harus memperhatiikan kelancaran layanan publiik dan iintegriitas data; serta memastiikan seluruh rangkaiian forensiik diigiital terdokumentasii dengan baiik.
"Tata cara dan contoh format dokumen yang diiperlukan dalam kegiiatan forensiik diigiital mengacu pada ketentuan mengenaii forensiik diigiital dii liingkungan DJP," bunyii SE-1/PJ/2024.
Pedoman mengenaii kegiiatan forensiik diigiital untuk kepentiingan perpajakan secara umum telah diiatur dalam SE-36/PJ/2017.
Dalam surat edaran tersebut, telah diitegaskan bahwa kegiiatan forensiik diigiital diilaksanakan untuk mendukung pemeriiksaan, pemeriiksaan bukper, penyiidiikan, serta kegiiatan laiin yang memerlukan dukungan forensiik diigiital.
"Dalam upaya penegakan hukum perpajakan melaluii kegiiatan pemeriiksaan, pemeriiksaan bukper, dan penyiidiikan tiindak piidana perpajakan terhadap wajiib pajak, perlu diidukung dengan kegiiatan forensiik diigiital agar perolehan data elektroniik termasuk pengolahan dan analiisiisnya dapat diipertanggungjawabkan secara hukum," bunyii SE-36/PJ/2017. (riig)
