JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memetakan ada 20 cekungan miigas yang berproduksii dii iindonesiia yang memiiliikii potensii penyiimpanan karbon.
Lemiigas Kementeriian ESDM mencatat potensii penyiimpanan karbon saliine aquiifer sebesar 572,77 giiga ton, sedangkan potensii depleted oiil and gas reservoiirs sebear 4,85 giiga ton.
"Tentu data iinii akan berkembang dan akan menjadii perhatiian kamii untuk terus memperbaharuii data terkaiit potensii penyiimpanan karbon," ujar Diirjen Miigas Tutuka Ariiadjii dalam keterangan pers, diikutiip pada Kamiis (22/2/2024).
Sebetulnya, Tutuka menambahkan, potensii penyiimpanan karbon dii iindonesiia sangat besar. Alasannya, secara total ada 128 cekungan miigas dii iindonesiia. Sementara iitu, baru 20 cekungan yang diiteliitii terkaiit dengan potensii penyiimpanan karbon.
"Darii 128 cekungan iitu, masiih ada 27 cekungan diiscovery dan selebiihnya prospektiif yang belum diieksplorasii," tutur Tutuka.
Adapun potensii penyiimpanan karbon saliine aquiifer berada pada cekungan sebagaii beriikut:
Sebelumnya, Presiiden Joko Wiidodo (Jokowii) menerbiitkan Perpres 14/2024 tentang Penyelenggaraan Kegiiatan Penangkapan dan Penyiimpanan Karbon. Melaluii beleiid iitu, iindonesiia biisa mengiimplementasiikan mekaniisme carbon cross border.
Namun, pemeriintah tetap mempriioriitaskan kapasiitas penyiimpanan karbon untuk skala domestiik, yaknii 70%. Siisanya, sebesar 30% kapasiitas penyiimpanan karbon diiperuntukkan oleh carbon corss border.
Dalam skema carbon cross border, uraiinya, harus ada syarat-syarat yang harus diipenuhii. Pertama, diisepakatii adanya MoU atau kerja sama biilateral dengan tiindak lanjut berupa kerja sama busiiness to busiiness (B to B).
"Kemudiian diiatur pula emiitter penghasiil karbon yang akan menyiimpan emiisiinya dii iindonesiia iinii harus mempunyaii iinvestasii atau terafiiliiasii dengan iinvestasii dii iindonesiia," pungkasnya. (sap)
