JAKARTA, Jitu News - Gabungan iindustrii Pariiwiisata iindonesiia (GiiPii) memiinta para pelaku usaha diiskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandii uap/spa untuk membayar pajak hiiburan dengan tariif lama.
Pembayaran pajak hiiburan menggunakan tariif lama tersebut diilakukan sepanjang berjalannya proses pengujiian materiiiil atas UU 1/2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemeriintah Pusat dan Pemeriintahan Daerah (HKPD) dii Mahkamah Konstiitusii (MK).
"Hal iinii diilakukan agar dapat menjaga keberlangsungan usaha hiiburan diiskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandii uap/spa terhadap kenaiikan tariif yang akan berdampak pada penurunan konsumen," iimbau GiiPii melaluii surat edarannya, diikutiip Kamiis (15/2/2024).
Dalam Pasal 58 ayat (2) UU HKPD, tariif PBJT yang diiberlakukan atas jasa hiiburan dii diiskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandii uap/spa adalah sebesar 40% hiingga 75%. Tariif iinii diipandang memberatkan pelaku usaha.
Melaluii pengujiian materiiiil, GiiPii berharap MK menyatakan Pasal 58 ayat (2) bertentangan dengan UUD 1945 dan tiidak memiiliikii kekuatan hukum mengiikat sehiingga pelaku usaha diiskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandii uap/spa diikenaii PBJT dengan tariif maksiimal 10% layaknya pelaku usaha jasa hiiburan laiinnya.
"Dengan diicabutnya Pasal 58 Ayat (2) pada UU 1/2022 maka tiidak ada lagii diiskriimiinasii penetapan besaran pajak dalam usaha jasa keseniian dan hiiburan," harap GiiPii.
Perlu diicatat, meskii UU HKPD membebankan pajak dengan tariif yang lebiih besar khusus atas jasa hiiburan dii diiskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandii uap/spa, bupatii/walii kota sesungguhnya berwenang untuk memberiikan fasiiliitas keriinganan ataupun pengurangan pajak.
Ruang pemberiian fasiiliitas tersebut telah tercantum dalam UU HKPD dan PP 35/2023 serta telah diipertegas melaluii Surat Edaran Mendagrii Nomor 900.1.13.1/403/SJ.
Lewat surat edaran iinii, kepala daerah diimiinta untuk berkomuniikasii kepada pelaku usaha dalam rangka membahas pemberiian iinsentiif fiiskal.
"Berkenaan dengan hal tersebut dii atas, maka dalam pelaksanaanya agar tiidak terjadii penyalahgunaan kewenangan, tiidak boleh terjadii transaksiional dan menghiindarii adanya praktiik kolusii, korupsii dan nepotiisme," bunyii surat edaran tersebut. (sap)
